Saturday, February 28, 2015

Kidung Doa


Di dalam hati kecil
Kita memerlukan pertemuan
Di balik kelopak mata
Kita merindukan berpandang-pandangan
Di ujung-ujung jari
Kita mendambakan belaian

Jika waktu tak melegakan luangnya
Jika tempat tak mendekatkan jaraknya
Jika cinta tak mengindahkan akhirnya
Maka yang ada hanyalah t(aku)t,
yang berubah menjadi kidung-kidung doa
Menyerahkan kembali kepada Sang Pemberi


Friday, February 27, 2015

Waktu Luang


Jemariku menggelembung gemuk
Perut lamaku menongol tembem
Oh... derap kakiku juga tak kekar

Pulpen kerontangku mengamuk
Lama novel dan modul tak kusungkem
Lalu fungsi perkakas rumah terbakar

Astaga, kepalaku malfungsi
Seperti kembali ke masa emut asi
Dikit-dikit minta disuap nasi

Inikah bentuk kecacatan generasi?
Umur hanya masalah angka, katanya...
Meskipun 'hanya', itu menjadi masalah sebab angka itu terus berlari menuju mati.

Memang. Waktu luang mengaburkan tujuan.

Pidana Mati

Bukan kah patut disyukuri?
Ketika aku tahu kapan tiba hari kematianku

Bahkan beberapa hari menjelang hariha
Para rohaniawan di sisi kanan kiri
Mendirikan tonggak roh
Supaya jiwaku bersedia, berkenan.

Hukuman mati di negeri ini memberi keuntungan bagi terpidana

Menjembatani antar dunia
Membekali hati dan jiwa dengan suapan rohani
Memberi ketenaran, karna peluru panas merajamnya

Ketika aku menerimaNya, berkenan meninggalkan raga fana
Hukuman mati benar-benar keuntungan
Yang artinya,
Kelepasan dari belenggu dunia
Kelepasan dari anyirnya mendosa