Monday, May 26, 2014

Apa Tujuanmu Sekolah?

“Yeeay…!!! Lulus 100%...!!!” Kira-kira begitu sorak kegirangan siswa-siswi SMA yang merayakan kelulusannya. Selasa, 20 Mei 2014, siswa-siswi SMA sederajat menerima pengumuman hasil Ujian Nasional. Bagaikan tradisi leluhur, coret-coret baju menjadi aktivitas wajib di dalam momen ini. Setelah puas melukis diri dengan semprotan pilok dan tanda tangan di sekujur tubuh, beranjak kepada tradisi selanjutnya yaitu pawai. Mereka turun ke jalan-jalan dengan motornya yang seolah turut antusias meramaikan momen ini dengan seruan knalpotnya. Begitu gaduh, kadangkala ricuh.
Euforia para pelajar ini bak Tim Manchester City merayakan kemenangan dramatisnya di Liga Inggris, sungguh romantis, masing-masing dari mereka ada yang merasakan haru, senang, bersyukur, bahkan sedih karena tersadar tidak akan berjumpa lagi dengan teman-teman setertawaannya. Namun memang itulah yang menjadi warna-warni dari hasil pengumuman kelulusan ini.
TK, SD, SMP, sampai SMA, seberapa banyak ilmu yang sudah kamu dapatkan? Ilmu apa saja yang sampai sekarang masih menggema di ingatanmu? Masih lupa?? Hehe… Bahkan tidak cukup sampai SMA, masih ada perguruan tinggi sebagai tempat menimba berbagai macam bidang studi. Dari SMA lanjut ke perguruan tinggi, dengan cabang ilmu yang begitu banyak, sepertinya akan begitu membimbangkan seorang bakal calon mahasiswa. Bisa-bisa karena itu juga, seorang lulusan SMA memilih bekerja dan vakum sejenak dari pendidikan formal, entah sampai kapan.
Seusai seru-seruan pesta kelulusan, jalan tempuh masih panjang. Seorang pelajar lulusan SMA akan menentukan arah perjalanannya. Dari berbagai sumber informasi, saran dan bla bla bla ia menimbang-nimbang, menemukan tujuan kemudian mulai bergerak. Terkhusus untuk yang hendak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, ia akan menemukan cabang ilmu-ilmu luas membentang.
Ada saja yang mendasari seseorang memilih bidangnya, pilihan orang tua kah? Kesempatan kah? Segi finansial kah? Atau minat? Setiap pilihan ada sisi buruknya. Boleh jadi peran orang tua sangat penting, jika tidak mementingkan ego-nya, orang tua bisa membantu mempertimbangkan sang anak dengan optimal. Atau jika ia beruntung masih memiliki hubungan baik dengan guru BK sewaktu di SMA, yang kemungkinan besar pandangan beliau lebih luas mengenai dunia pendidikan dan prospek ke depannya. Bisa jadi juga beliau dapat mematangkan setiap keputusan yang akan diambil.
Ingatkah apa guna kita bersekolah dari TK sampai SMA? Jika ada yang berkata sejak SD hasil belajar kita diukur dengan nilai, itu benar, tidak dapat disalahkan, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Terkadang kita lalai, bahwa segalanya tidak bisa diukur dengan nilai hitam di atas putih. Bersekolah juga bagian dari kehidupan, bersekolah juga merupakan bersosialisasi, maka dari sanalah  kita belajar tentang hidup, hidup bersosial, hidup sebagai pencari ilmu.
Sekalipun kesuksesan tidak hanya dicapai melalui bersekolah, tetapi dari situlah kita mempunyai point lebih, tidak sekedar mengerjakan soal atau PR, kita belajar membiasakan diri menyelesaikan masalah. Di sisi lain, kini sekolah juga menyediakan berbagai wadah untuk tiap siswanya mengembangkan potensinya, sehingga otomatis mereka juga perlahan tahu apa bakat dan minatnya. Bisa dibilang pendidikan formal tidak melulu membicarakan Matematika, Biologi, Sejarah, dsb, tetapi juga mencakup pengembangan diri seseorang. Maka dari itu, ada baiknya jika seorang pelajar atau mahasiswa tidak hanya terpaku pada akademik, tetapi juga pengembangan diri atau hal-hal pendukung yang bersifat non-akademik. Sekali lagi, hasil belajar tidak mutlak diukur hanya dengan nilai akademik, karena menuntut ilmu tidak bersifat kaku, yaitu terpancang di depan papan tulis dan duduk terpaku di bangku.
Jadi, tentukanlah tujuanmu berilmu. Sekedar menjadi orang terdidik, dengan bukti transkrip nilai “Sangat Memuaskan” atau orang terdidik sekaligus terlatih? Berilmu tidak selalu tentang akademik, dari keseharian di luar kelas saja kita bisa memperoleh banyak ilmu serta penerapannya. Apa lagi ditambah lagi kita seorang pelajar atau mahasiswa, boleh jadi berlipat ganda pelajaran yang kita dapat, dari dalam maupun luar kelas. Kita dapat menerapkan ilmu kita untuk kebaikan diri sendiri terlebih orang lain.

Thursday, May 15, 2014

Setangkai Lolipop

Siapa yang tak mengetahui lolipop? Permen dengan tampilan sederhana yang lucu dengan stik/tangkai untuk pegangannya, sungguh menggiurkan mata dan lidah untuk mencicipnya. Bagaimanapun itu, kebanyakan anak-anak pasti suka, orang dewasa saja terkadang masih hobby ngenyot permen ini. Kenikmatannya bisa dibayar hanya dengan uang paling tidak Rp1.000,-, bergantung merek dan variannya. Dan kali ini aku akan sedikit bercerita dan berbagi sudut pandang kepada teman-teman. Mari…
Suatu waktu aku membeli lolipop, rasa stroberi! Satu saja, bisa kunikmati beberapa waktu lamanya. Sambil ngegame di bawah naungan gazebo, enak saja aku menikmatinya. Sesekali aku mengeluarkannya dari mulut untuk sejenak istirahat mengulumnya. Tak terasa beberapa waktu kulewatkan bersama lolipop di mulutku, tak sadar pula butir lolipop itu mengecil, pertanda akan habis. Yah… mulut ini akan sepi.
Ada saat-saat dimana aku bisa menikmati setangkai lolipop itu, dari pertama kali aku dapat memilikinya, kemudian merasakannya dari bulatan besar sampai bulatan terkecil, sesekali mengeluarkannya dari mulut untuk sejenak melihatnya tinggal seberapa, masih lama kah aku dapat mengecapnya. Mengecap rasa manisnya, mengemut dan membiarkan ia habis dengan sendirinya –tidak langsung mengunyahnya–. Ada rasa tertentu dalam hatiku, kecil dan sepele, kebetulan saja itu berbuah perenungan bagiku.
Seiring dengan akan habisnya lolipop ini, sedikit saja aku merasa kehilangan, jika dirasa-rasa kenikmatan yang menyukakan lidah ini akan pergi. Semakin mengecil dan semakin mengecil. Beruntung saja aku hanya mengemutnya, tidak langsung mengunyahnya, sehingga aku berkesan lama tenggelam dalam manisnya lolipopku.
Manisnya setangkai lolipop ini seperti sebuah kebahagiaan dalam diri kita. Ada waktunya kita berkenalan dengan sumber kebahagiaan itu, bertemu untuk kali pertama, bahkan bisa memiliki seutuhnya, lengkap dengan kebahagiaan yang menguntit bersamanya dan pula hanya kita yang menikmatinya. Kita dapat mengecap kebahagiaan itu, sesekali jeda dan menatap sang pembawa bahagia itu. 
Bicara soal awal, pasti ada akhir. Ada waktunya untuk mengenal, ada waktunya untuk mengenang. Kali pertama mendapat suatu kebahagiaan, begitu kerasan dan berharap itu terus ada memihak kepada kita. Seperti lolipop, pasti akan tiba waktunya ia habis, sejajar dengan itu, kebahagiaan kita akan sesuatu/seseorang suatu saat akan habis masanya, dan tibalah pada perpisahan. Perkara kita merasa lama atau singkat bersama rasa bahagia itu, bergantung cara kita menikmatinya, sikap hati turut menentukan. Dengan mengemut kah atau mengunyah kah? Merasakannya dengan lembut sampai waktunya tiba atau mengeksploitasinya sesuai hasrat kedagingan kita? Sepertinya akan berpengaruh besar kepada durasi kebahagiaan itu.
Baiklah bibir kita limpah dengan syukur akan segala hal yang ada di depan kita, yang paling sederhana sekalipun. Dari mula-mula kita memperolehnya, sempat hidup bersamanya, sampai masa akhir kita merasakannya. Seperti halnya seseorang, ada masanya untuk memberi atau berbagi kebahagiaan bersama seorang yang lain, kemudian pergi dengan sendirinya sesuai masanya, pergi bersama manisnya, dan kesan-kesan yang tertinggal. Satu lolipop juga ada masanya, habis, meninggalkan sedikit rasa yang tersisa dikecapan lidah. Semoga bahagia selalu ada dalam kita, seberapa besar itu, entah dari manapun itu. Amin. Thank you!