Thursday, July 9, 2015

Kupu-Kupu

Selama ulat, di pohon yang satu
selera makanmu sama denganku

Lahap demi lahap
Tahap demi tahap

Makan apapun dimana kita hinggap
Merindukan kepompong kita
Hari kita seolah saling balap
Lalu kesenangan-kesenangan itu tercipta

Tau, namun memilih tinggal dalam kebodohan sampai akhir
Menganggap 'tau' adalah mula kesedihan dan khawatir
Ketidaktahuan memanipulasi waktu bahagia seolah tiada akhir

Pada kupu-kupumu, kebaruanmu itu
Engkau siap tinggal landas
Dunia baru, pijakan baru
Kelak mampirlah pada bunga-bunga pohonku

Antonim

Bulu matanya lentik
Geguyonannya asik
Dia santun tak mengusik
Itulah mengapa dia cantik

Tapi kekasihnya sangar
Bahunya kekar plus kasar
Suaranya gagah menggelegar
Sekali hantam kita tepar

Ini seperti antonim
Berlawanan tapi guna melengkapi
Ini seperti siang malam
Berkebalikan tapi musti beriringan

Hidup ini disesaki antonim
Tetaplah begitu,
dan terus begitu