Saturday, December 28, 2013

SMA Warga



Kawan, lihatlah tempat ini
Mengapakah ini begitu sederhana
Sampai-sampai tempat ini terasa dekat
Aku serasa singgah hanya sebentar
Aku seperti baru saja mengenalmu
Bahkan aku tak sempat menjawab « isilah titik-titik di bawah ini »
secara menyeluruh

kawan, tempat ini hanya seperti halte saja
kau melihatnya?
Hanya memberi naungan bagi yang hendak bertujuan…

Tuesday, December 24, 2013

Sisi Remang Almamater Kuning


Seperti kala kukayuh sepedaku
Supaya tetap berjalan, supaya kencang, 
supaya jauh dari kejaran, 
supaya tak jatuh karna tak seimbang.

Hidupku musti terus berlari
Kukayuhkan kaki-kakiku
Agar tegak kuberdiri tegap
Tak tersungkur sebab kuberhenti bergerak

Kuning almamater menandakan cerah
Ingat, sisi remang selalu hinggap di sisi dalam
Rahasia muram diselimuti sisi kuning di luar
terpendam, gelap dan dicerna senyuman

Wednesday, December 11, 2013

Cawan dan Pedang

Berlari adalah sikap wajib kakiku
Menghantam adalah tindakan mutlak lenganku
Dihujam adalah perlakuan abadi kepada dada dan punggungku
Akulah pedang, menerkam kubu-kubu lawan.

Liang keduniawian mengacu padamu
Lengkungan fana akan kematian jasad termakan pedang
Emas, berkilau, tiada setara dengan bulan
Adalah cawan, kau manis berdiam sarat keanggunan.

Bukan jarum, melainkan pedang dengan pedang
Bahkan gada dan tongkat, aku di hadapannya
Sang Goliat kumatikan besarnya, bungkam!
"Pecundang" lekat tertidur bersama sosoknya

Dan kau, kau bukan lawan, hanya saja berlawanan
Kau memataharikan kau, membakar ganas air mata
Palungan Sang Anak terbaring membawahi bintang Timur
Menjadi tampungan luapan asa yang patah

Aku adalah pedang, kau adalah cawan
Sekalipun aku patah terhunus pedang lain,
kau menampung manja darah dan rengekan.

Saturday, December 7, 2013

Di Bulan Desember...

Cemara dan kelap-kelipnya telah terpasang
Pernik 25 Desember mulai merajut suasananya
Baiklah, mari mulai juga keceriaan kita.

Aku beserta gejolak di saku celanaku tak kunjung reda
Hujan di bulan Desember mulai mengikis rona merah
Matilah, senyumku terdesak cemberut pipiku.

Hendakkah pengertianku turun kepada cemara itu?
Boleh jadi natal akan mengkremasi air mata duka

Dibalik jendela rumah ada dingin mengetuk-ngetuk
Dan rimbunan pohon lain di luar seraya iri
kepada cemara di dalam rumah,
menikmati hangat nafas tawaan keluarga

Dan rona merah kembali
Indah sampai pada akhir senyum di bulan Desember...

Monday, December 2, 2013

Bermuara Senja

Orang mengatakan kebahagiaannya
Orang merangkai harinya untuk bahagia

Seperti jari-jari roda
Berdekatan, saling mengejar
dan tak pernah saling menemui
Tak menyadari bahwa setiap satu dari mereka saling menopang

Alas tidur biru di ruang emosi ini
Mengalasi setiap kepala letih
Berpulang dari berpacu dengan asanya

Subuh begitu biru
Menjadi penentu mimik tercipta
Mengawali jingga kala di senja
Muara segala helaan emosi