Friday, May 31, 2013

Kerinduan Besar

Aku merindukannya
Merindu satu yang tak terungkap
Yang tak terucap, tak tercium

Aku merindukannya
Memperlihatkan atap-atap rumahnya
Gagasan cemerlang
Angan-angan tentang dia yang pintar

Aku merindukannya
Pribadi yang indah
Lembut menghela mataku
Memanjakan bahuku menopang kepalanya

Aku merindukannya
Sandal mungil warna keruh
Berjalan di sisiku berjalan

Merekah redup matanya
Selalu menang dari padaku
Rasa geram-geram lucu
Adalah alasan kerinduan besar

Aku merindukannya..

Monday, May 20, 2013

Dialog Dini Hari

Dialog dini hari,
akan membuka celah-celah awan,

memberi jalan si Surya,
menghujam kebekuan hati,
merangsak ketengah deruan kolong langit,
mengatasi bungkamnya kicuan orang-orang mati.



Kau

Kau menghentikan langkahku
Kau tak beri aku jalanku
Kau seperti rantai
tak membiarkan kakiku berpasangan
Kau membunuhku
mencengkram tanganku kuat-kuat
membuatnya musuh bagi bahagiaku

Kau, Kau! Engkau..
Kau meletakkan kepalaku di tempat asing
Yang tak kurasa, pikir, dengar dan lihat, ada disini.
Kau memukulku begitu hebat, hingga arahku berubah, jalanku menyakitkan bagi kaki-kakiku

Daging ini tersiksa
Lidah ini gemetar
Tanganku tak biasa
Bahuku ditimpa

Terimakasih, Kau benar mengasihi roh ini, jiwaku bersorak, seraya rohku menguat tegap.
Kau mendapatkanku, tepat aku berseru.
Dan di akhir hidup, aku mati, pengangkatan itu untukku.

Sunday, May 19, 2013

Kawan Lama?

Bisakah aku tetap bersenda
sementara si buku tua menganga meminta diraba setiap kalimatnya?
Kawan lamaku hanya seperti satu buku tua nan usang ini,
selalu berkesan ceritanya,
tidak berubah!

Selalu itu yang ada,
lembaran lembarnya usang,
debu-lah pengindahnya

Buku tua, selalu terkesan, tidak berubah
Selalu tersimpan!
Sebab ia seperti, harta dibawah debu tebal

Muak, gerrramm!! Namun ia selalu tersimpan bersama untai cerita dan debunya

seperti kawan lama, ia berkesan,
tua dan usang,
karena ia selalu tersimpan,
Tak diikhlaskan pergi.
membosankan untuk diraba butir katanya,
berat halamannya terbuka,
namun hati terkesan di atasnya.
Buku tua, kawan lama?

Saturday, May 18, 2013

Diam

Diam itu gelap
diam adalah pikiran yang terus dipacu mengejar angan
diam ialah gitar dengan dawai yang getar,
Diam itu empuk
diam seperti bantal meminang kepalaku
diam tak setenang yang dikira,
Diam itu senyum
diam sama saja bertindak
Diam membunuh ucapan.

Tuesday, May 14, 2013

Hidup yang sungguh hidup


Apakah Anda pernah berpikir bahwasannya kata "Bajingan" itu baik?
Bajingan, keparat, bangsat dan semacamnya berada dalam lingkup pandangan yang buruk bagi sebagian besar orang yang mengenal istilah-istilah itu. Eksistensi kata-kata itu seolah hendak dihilangkan dalam suatu situasi formal. Berbagai cara orang hendak memperhalus kata-kata itu supaya tidak tercetus dari mulut, dan bagiku itu memang normal.
Masalah "baik-buruk" -nya suatu istilah kata, setiap individu menilai berbeda. Baik bukan berarti benar, sebaliknya benar belum tentu baik. Ketika tangan kiri dipakai untuk makan, secara umum orang memandangnya hal yang kurang baik, tetapi dalam kondisi tangan kanan yang sedang sakit atau tidak bisa digerakkan, maka makan dengan tangan kiri adalah hal yang benar.
Kembali ke "Bajingan" dan kawan-kawan. Seseorang yang dicap "Bajingan" oleh orang banyak belum tentu ia benar-benar sepengertian dengan definisi "bajingan" itu sendiri. Seperti peribahasa "Jangan menilai buku dari sampulnya". 
Aku setuju bila orang yang baik dan memang benar-benar baik saat ini, pasti mengalami proses yang panjang  dan berat di masa lalu. Seperti seorang empu, ia menempa pedangnya, ia memukul-mukul besinya, membakarnya, melipatnya berkali-kali demi menciptakan pedang yang berkualitas tinggi. Si pedang tersebut mengalami proses yang menyakitkan tentunya, sekaligus mengalami wujud yang sangat tidak elok, sangat jauh berbeda dengan wujud pedang yang telah jadi. Namun melalui proses itu, jadilah pedang yang indah, tajam dan berkualitas.
Orang yang sukses baik dalam kehidupan fisik maupun rohani pasti juga mengalami penempaan yang berat dan bahkan keadaan yang sangat buruk sekalipun, sebelum ia berhasil dengan kehidupannya saat ini. Mungkin untuk seorang kriminal, ia mengalami pahitnya hidup yang memaksanya berpindah haluan jahat, bahkan membuatnya terkekang oleh dinginnya tembok penjara. Akan tetapi dari situ ia menjadi mengerti menjadi seorang yang sering dipanggil bajingan, bebangsat negara, membuatnya bertolak balik ke arah pembaharuan hidupnya. Ia mengerti apa itu hidup bijak, ia mengerti kebaikan dan kebenaran, bahkan ia mengerti mengapa ia ada di dunia.
Itulah proses, "bajingan" sebagian kecil dari proses, "menjadi kotor" sebagian kecil dari proses. Itu hanya kemasannya, inti dari semua ada didalamnya, maksud yang indah bukan dilihat dari kemasan luar. Kemasan luar hanya mewarnai intinya, begitu pula proses hanya mewarnai hidup yang sukses, hidup yang sungguh hidup.

Friday, May 10, 2013

Hanya aku

Kau tau ini akan indah
Tak teraih air matamu oleh tangan ini
Tak pandai lidahku mewakili cintaku padamu
Pun bahuku, tak benar nyaman untuk kepalamu
Kaki-kaki ini dengan segera akan menjangkah
Semua ada pada dirimu matahariku
Aku yang merasakanmu
dan hanya melihatmu
setidaknya…

Aku hanya pergi dengan kaki-kakiku
Reruntuhan ini, akan memperbaharuiku
menjadi Eiffel,
Yang menunggu waktumu tiba padaku.