Saturday, April 19, 2014

Pelangi Besok

Siapa yang tau lusa seperti apa?
Jika pelangi memang indah
Jika pelangi datang dari badai berlalu
Namun tak terjamah ujung jari sekalipun
Tiada bisa rasa merasa

Bahwa sama saja dengan besok lusa
Simpanlah baik di balik mata,
Di dalam hati sebagai pengayom keyakinan
Esok lusa akan indah
Lebih kompleks dari biasa
Lebih mewarna dari sekedar selasa

Layaknya pelangi ditinggal badai
Percaya pelangi itu indah,
Meski belum memegang, belum menggenggam

Horison senja dimakan malam fajar berbuah
Hari besok sama saja tak terjamah
Sama saja persoalan iman
Yakin tak yakin, kira mengira
Buta saja! lalu percaya kalau esok indah tiada tara

Ada Sebal Menghujani Almamater Kuning


Kampus ini melahirkan insan tersaring
Meraih ranting-ranting untuk sampai ke atas
Mencapai visinya, mencipta kobar juangnya

Merangkak namun pasti
Merengek tak datangkan hati
Sekiranya bercampur aduk pada kawan seranah seperjuangan
Setidaknya itu menutupi aku yang menyela di sela ruangan

Nah, kulit kita si kuning, kuningnya almamater
Mensejajarkan aku kepada satu yang menjadi detik setiap hidupku
Setidaknya aku telah mengkuningkan pakaianku
Meski itu menjadikan jemariku malu menyentuh

Jas ringan yang memberi beban
Barang ini menghamburkan pandangan
Aku “rapapa”

Kampus ini melahirkan insan tersaing
Tersaing nama? Atau tersaing eksistensi?
Semoga memang siap saing
Saing tak berarti saling memaling
Memaling muka dan lari seperti maling

Ada sebal menghujani almamater kuning
Menyulut mata dan telinga, provokasi ke lubuk hati
Jika inilah hidup, maka bicaralah tentang kedamaian
Macam mana otak menghakimi,
berdamai hati boleh jadi solusi.

Friday, April 11, 2014

Sajak Cemburu

“Aku di sini bukanlah aku yang benar-benar aku yang menuliskan kalimat ini
Engkau di sini bukanlah engkau yang ada di hadapan tulisan ini
Biarkan “aku” menjadi engkau sendiri yang membacanya
Dan biarkan “engkau” menjadi satu orang nan tiada di sampingmu yang kaucinta”

Aku melalui masa dimana mataku selalu menjadi ujung sumbu ledak
Pandangan mata yang rawan menyulut ledakan kepada hati
Dan telinga yang melalui dengarnya mampu menggoyahkan rasa
Keduanya hanya menangkap kenegatifan di luar sana
Maka aku menjadi hal lain yang inderaku sendiri tak mampu mengenalnya

Aku cemburu kepada ‘waktu’
Yang senantiasa memelukmu dalam sukamu, dukamu, lukamu
Menyaksikan tanganmu mengusap peluh hari-hari kerasmu

Aku cemburu kepada ‘angin’
Yang senantiasa membelai pelipis berkeringatmu
Memanjamu dari letih demi sepintas kesegaran

Aku cemburu kepada ‘sandal jepit’
Yang senantiasa mengalasi kaki dari langkah beratmu
Diingat ataupun tidak, ia rela kotor untukmu

Aku cemburu kepada ‘bangku kuliah’
Yang senantiasa menyamankan punggungmu demi sebuah sandaran hangat
Melihat mata kantuk dan muka lucumu di tengah luput pengawasan ustadz

Aku cemburu kepada ‘sajadah’
Yang senantiasa menerbangkanmu dengan doamu menghadap Tuhan
Mendengarkan sujudmu dalam ratapan dan pengharapan

Aku cemburu kepada ‘kemarin’
Yang senantiasa menjadi warna indah dalam garis ingatanmu
Dan berubah sebagai antusiasme buah bibirmu tentang masa lalu

Maka kukatakan sendiri kepada telingaku
Bahwa aku bukanlah apa-apa
Tak lebih berfungsi dari sandal jepit sekalipun
Demikian segala rasa yang kupunya
Akan tetapi aku bisa bersembunyi dari iri-iri yang mengusik
Tulus berdoa bahwa yang terbaiklah yang selalu melekat padamu
Bahwa tangan Tuhan merenda indah atas kehidupanmu sampai pada akhir …