Friday, December 30, 2016

Takdir

Takdirku sudahlah suratan
Suatu kapan datang dan sudah berada di ambang pintu

Doaku adalah lisan
Tak kelihatan namun terdengar sampai surga sana

Cintaku hanyalah tulisan
Kelihatan namun tak tertoreh di hatinya sana

Tuesday, November 8, 2016

Bersama

[Hadiah untuk saudara(-saudara)ku yang sempat renggang dalam kebersamaan]

Punya kesamaan dengan orang yang kau kasihi itu hadiah
Kecocokan bermula dari kesamaan, kan?

Kalau begitu,
langit itu hadiah
bayangan itu hadiah
sore itu hadiah

Sebab kau dengannya masih mendongak langit yang sama,
memikiki sisi-sisi gelap yang sama,
dan sore yang sama untuk sekedar duduk bersama

Bersyukur masih ada yang sama,
sehingga kau tak berlaku sombong,
lalu membuat renggang untuk bersama.

Kalau belum bisa bersama jangan menyerah
Tuhan masih punya banyak hadiah

Wednesday, October 26, 2016

Kanan


Bagiku, aku menoleh ke kanan.
Bagimu, aku menoleh ke kiri.
Sebanding dengan:
kukira aku ini orang baik,
namun tak tentu kaupun mengira aku baik.

Lalu bagaimana,
mengapa tidak kita bersebelahan saja?
Dan menghadap depan yang sama, memiliki kanan yang sama.
Saat aku mengira aku baik untuk bersamamu, kaupun mengira demikian.

Monday, September 5, 2016

Kasih

Di rumah kita ini,
kita bersatu oleh keberagaman
kita bercerai oleh keberagaman
kita kasmaran oleh keberagaman
kita terpisah oleh keberagaman
Di sini, agama ada dalam keberagaman
serta ada keberagaman jika ada agama
Sayangnya, kasih tidak mengenal keberagaman
meskipun agama selalu mengajarkan kasih

Monday, August 22, 2016

Cinta

Aku mencintaimu.
Saat aku memandangmu,
kau tak melihatku
Saat kau melihatku,
aku sedang memandangimu.

Langit


Langit telah berusaha kekar dan tangguh mengatasi kolongnya
Sedangkan belahan-belahan bumi, doa-doa umat merengek menghujani langit
Adalah tipu kalau-kalau langit kita itu gagah dan biru segar

Seketika itu awan-awan putih penuh digantungi hanger baju muda-mudi
Baju yang dikenakannya besok saat cita-citanya tergapai

Dan taruna-taruna di bawah sini berdoa besok tak hujan,
agar biru tetaplah langit, bernaungnya harap dan impian

Sementara

Sementara aku mengaduh rindu
kepada kertas dilampias tulisan
Tangisnya telah nyaman diseka seorang

Sementara aku menderita jarak
kepada jauh di atas jalan
Kanannya telah nyaman di kiri seorang

Sementara aku merakit doa
kepada lipat tangan dan tutup mata
Doanya telah satu dengan doa seorang

Friday, June 17, 2016

Hari-hari ini

Hari-hari ini,
jarum jam adalah penunjuk dosa-dosa yang terus berotasi tiada sekejap jeda

jarum pendek yang menunjukkan maniak yang senggama tanpa ikatan suci cinta

jarum panjang yang menyaksikan muka-muka para cendikia bermain peran dalam dusta

jarum merah yang mengiring kabar-kabar pengundang tanya demi secarik merah oleh kaum pewarta

Hari-hari ini,
penunjuk waktu bukanlah penunjuk waktu,
semakin jelas waktu membawakan dosa dunia kian padu
tertulis dalam nubuat-nubuat masa depan didera pilu

Friday, June 10, 2016

Jangkah

Kutambahkan sedikit api
ke dalam kakiku,
dan tak kalah terbakar daripada legam aspal itu
Lihatlah jangkah dan jalan
Biarkan mereka saling membunuh
Agar tau apa arti bangkit kembali

Monday, May 23, 2016

Anak Kecil


Kamu menjadi anak kecil
ketika kamu ingin
selalu menggebu,
tak dengar-dengaran kiri-kanan
abaikan segala nasihat dan pertimbangan

Kamu benar-benar anak kecil
Ketika kamu memohon kepadaKu
Dengan hatimu mungil
mengharapkan kata 'iya' tak peduli 'tidak'

Karna kamu sekalipun tidak siap pada segala bentuk penolakan dariKu
Padahal Aku selalu memberimu segala baikKu
Meski 'tidak' adalah kata pertama yang kau dengar
KasihKu selalu lebih baik dari sekedar permohonan kecilmu

Sampai memutih rambutmu
Aku tetap setia
Aku tetap sedia
menerima ribuan rengekmu
dan menopang rebahan kepalamu

Wednesday, May 18, 2016

Lidah dan Lambung

Tubuhmu adalah sejulur lidah
Mau dan hanya mau rasa yang menggugah
Peduli amat apa itu faedah
Dahulukan nikmat, sekiankan barokah

Lidah mana tahan dengan semua manisan, gegurihan
Lidah ini wujud jasmaniah
Birahi akan segala dunia empunya keenakan
Tiada apa kebutuhan batiniah

Sedang rohmu adalah lambung
Menderita segala burukmu dari luar sana
Lidahmu mengira kenikmatan adalah segalanya
Lalu lambung yang derita segalanya

Tubuh memang lemah
ingin apapun yang terjamah
Roh selalu berusaha menguat
sekali dua ia sentil hatimu supaya ingat

Wednesday, March 23, 2016

Gelora

Mataku akan mencurimu
Kubawa kau dalam pejaman
Kutelanjangi kau demi sebuah ingatan
Dorongan gelora perkenalan

Cangkang yang mengangkangi kura-kura
Aku akan tempurung bagimu sejahtera
Langit yang menggagahi ibu pertiwi
Cintaku akan selalu pagi untukmu yang sejati

Saturday, March 12, 2016

Merpati, Lebah, dan Kucing

Jarum-jarum jam bersenja gurau di sekitaran angka empat
aku bersama kopi dan sore yang makin membarat

Seekor merpati berkata padaku
‘sudahlah, inilah kehidupan yang selayak-layaknya
bebaslah, terbanglah tinggi, bangun sarang megah nan aman,
tinggalkan semua yang di bawah sana, tempat kotor dan najis.
Biar sisanya Tuhanku yang atur dan pelihara hidup.’
Ia berkata melalui sayap-sayapnya yang mengepak mengudara di cakrawala

Lalu seekor lebah mengomel padaku
‘ayolah, bagaimana bisa kau cuma duduk di sini?
Hidup ini singkat, bekerjalah dan layani Tuanmu!
Dimana rekan-rekanmu bekerja, sementara kau nikmati kopi?
Sebelum kopimu basi, mungkin kau sudah mati tiada yang mengingat.’
Ia berkata melalui kawanannya yang berbondong bergegas mencari sari bunga

Dan seekor kucing bergumam padaku
‘aduh, repot amat hidupmu?
percaya atau tidak, aku hanya tidur, sesekali merengek minta makan
Tuanku sudah sediakan keperluanku! Kalau Tuanku tidak ada,
akan dan tetap ada tuan-tuan yang lain yang menaruh iba untuk hidupku.’
Ia berkata melalui tidurnya yang lama di atas sofa empuk

Bersama benamnya sore, aku mati di dalam kopi
Berharap bisa mentas darinya dan bergerak ke tepian mimpi

Sunday, March 6, 2016

Tangan

Ini tanganku, bersama dahaganya mencekik
Dan jemari meronta berbisik
Ingin melayangkan satu dua gedik
Dan mengepalkan amarah memekik

Mencakar raut muka jijik itu
Kuku-kuku akan menembus bola mata
Memecahnya dan mencukil bersama cairannya
Sungguh benci-benci ada di ujung jari-jari
Seperti nanah membusuk yang leler diantara selanya

Kepalan tanganku benar hasrat meremukkanmu
Kepalamu di dalam kepalanku
Tulang telinga yang menyumpalmu dari segala kebaikan
Lalu mulut pencacimu yang melubangi setiap hati
Pasti akan kuremukkan, kuremukkan

Keangkuhan itu akan kutundukkan di bawah kakiku
Sila meratap, lalu menyesal,
rebahlah bersama selaksa dengkiku
Biarlah dosa di sekujurku
Biarkan kerongkongan tanganku alami kelegaan
Serta hatiku kenyang dalam pekikan-pekikan dendam
Biar alir darahku membencimu sementara waktu

Tuesday, February 23, 2016

Gelandangan - Gelandangan

Bagaimana Tuhanmu menyayangimu, gelandangan-gelandangan?
Sedang para hantu berdasi menajiskanmu sebagai kutu metropolitan.

Di rumah megahmu,
lampu tidur awan mendung
dicahayai hujan asam memasung
Kampret memang itu kutu metropolitan
Kota-kota seraya bertajuk penampungan
Kasihannya oh gelandangan.

Ditinggikan para jelata sesaat dalam euphoria
Mengemban hutang kata-kata dan rupiah
Setelah duduk di ‘kursi’ singgasana lalu amnesia

Dianggap ada padahal pekerjaan tangannya tak kau temu
Dianggap tiada namun merekalah tentukan harga panganmu
Simpang siurnya wahai hantu berdasi

Duh gelandangan, kalau belatung saja dipelihara Tuhan di nasi sisa para dewan
Lalu bagaimana Tuhanmu menyayangimu, gelandangan-gelandangan?

Jantung Hati

Kau tidak menyuruh jantungmu untuk terus berdegub,
sama, kau mencintainya begitu saja.

Takut, kecewa, syak, haru,
mengalir sendirinya dibawa darahmu.

Berharap nafasmu mengeluarkan segala negatif tentangnya.

Kawin

Pergiku, pergimu,
berkawin satu sama lain
memberi kita rindu
menagih sua kemarin

Dahaga seperti fakir
Tersesat seperti kafir
Meracau tak berpikir
Hati sudah di ujung bibir

Biarkan rindu itu kawin
Di balik waktu yang miskin