Friday, April 11, 2014

Sajak Cemburu

“Aku di sini bukanlah aku yang benar-benar aku yang menuliskan kalimat ini
Engkau di sini bukanlah engkau yang ada di hadapan tulisan ini
Biarkan “aku” menjadi engkau sendiri yang membacanya
Dan biarkan “engkau” menjadi satu orang nan tiada di sampingmu yang kaucinta”

Aku melalui masa dimana mataku selalu menjadi ujung sumbu ledak
Pandangan mata yang rawan menyulut ledakan kepada hati
Dan telinga yang melalui dengarnya mampu menggoyahkan rasa
Keduanya hanya menangkap kenegatifan di luar sana
Maka aku menjadi hal lain yang inderaku sendiri tak mampu mengenalnya

Aku cemburu kepada ‘waktu’
Yang senantiasa memelukmu dalam sukamu, dukamu, lukamu
Menyaksikan tanganmu mengusap peluh hari-hari kerasmu

Aku cemburu kepada ‘angin’
Yang senantiasa membelai pelipis berkeringatmu
Memanjamu dari letih demi sepintas kesegaran

Aku cemburu kepada ‘sandal jepit’
Yang senantiasa mengalasi kaki dari langkah beratmu
Diingat ataupun tidak, ia rela kotor untukmu

Aku cemburu kepada ‘bangku kuliah’
Yang senantiasa menyamankan punggungmu demi sebuah sandaran hangat
Melihat mata kantuk dan muka lucumu di tengah luput pengawasan ustadz

Aku cemburu kepada ‘sajadah’
Yang senantiasa menerbangkanmu dengan doamu menghadap Tuhan
Mendengarkan sujudmu dalam ratapan dan pengharapan

Aku cemburu kepada ‘kemarin’
Yang senantiasa menjadi warna indah dalam garis ingatanmu
Dan berubah sebagai antusiasme buah bibirmu tentang masa lalu

Maka kukatakan sendiri kepada telingaku
Bahwa aku bukanlah apa-apa
Tak lebih berfungsi dari sandal jepit sekalipun
Demikian segala rasa yang kupunya
Akan tetapi aku bisa bersembunyi dari iri-iri yang mengusik
Tulus berdoa bahwa yang terbaiklah yang selalu melekat padamu
Bahwa tangan Tuhan merenda indah atas kehidupanmu sampai pada akhir …

No comments:

Post a Comment