Tuesday, February 23, 2016

Gelandangan - Gelandangan

Bagaimana Tuhanmu menyayangimu, gelandangan-gelandangan?
Sedang para hantu berdasi menajiskanmu sebagai kutu metropolitan.

Di rumah megahmu,
lampu tidur awan mendung
dicahayai hujan asam memasung
Kampret memang itu kutu metropolitan
Kota-kota seraya bertajuk penampungan
Kasihannya oh gelandangan.

Ditinggikan para jelata sesaat dalam euphoria
Mengemban hutang kata-kata dan rupiah
Setelah duduk di ‘kursi’ singgasana lalu amnesia

Dianggap ada padahal pekerjaan tangannya tak kau temu
Dianggap tiada namun merekalah tentukan harga panganmu
Simpang siurnya wahai hantu berdasi

Duh gelandangan, kalau belatung saja dipelihara Tuhan di nasi sisa para dewan
Lalu bagaimana Tuhanmu menyayangimu, gelandangan-gelandangan?

Jantung Hati

Kau tidak menyuruh jantungmu untuk terus berdegub,
sama, kau mencintainya begitu saja.

Takut, kecewa, syak, haru,
mengalir sendirinya dibawa darahmu.

Berharap nafasmu mengeluarkan segala negatif tentangnya.

Kawin

Pergiku, pergimu,
berkawin satu sama lain
memberi kita rindu
menagih sua kemarin

Dahaga seperti fakir
Tersesat seperti kafir
Meracau tak berpikir
Hati sudah di ujung bibir

Biarkan rindu itu kawin
Di balik waktu yang miskin