Tuesday, December 1, 2015

Tak Bersenja Satu

Kukira kau dan aku adalah senja
Yang indah meranum merah

Berniscaya kita berakhir menjadi senja
Yang mana orang selalu damba dan mengabadikannya
Sampai-sampai dilukiskan dan dilagukan
bersama secangkir kopi

Menyangkakan kaulah matahariku,
aku langitmu, yaitu tempatmu bersinar
ataupun sebaliknya
Lalu bertemu satu dalam tetapan takdir, senja.

Tetapi apa,
ternyata akulah orang yang damba itu
melagukan senjamu bersama kopi
Dan bukanlah senja

Saturday, November 14, 2015

Aku menemukanmu

Aku menemukanmu di renggang senar gitar
Memberiku sela untuk sebuah nyanyian rindu

Aku menemukanmu di kosong kertas selembar
Membuatku leluasa menulis sajak-sajak rayu

Seketika lamanya waktu aku berdiam
Terkekang dalam temaram

Tibalah kau tergelincir dalam pelukan
Ketidaksengajaan indah karna berakhir kenyamanan

Membuatku sama seperti padang gersang bertemu hujannya
Membaurkan retak-retak tanah kekeringan

Dan bersamamu aku terlampau bahagia,
sampai-sampai umurku enggan tambah usia

Sunday, October 11, 2015

Minggu yang tak diminggukan

Minggu hari setumpukan rindu
Hari yang disempat-sempatkan waktu
Mungkin benar ini waktu untuk bertemu
Pelukan kecil saling menjamu

Tapi ini tak biasa
Ketika minggu berarti jemu
Dan termangu menunggu yang tak ditahu
Sekedar kartun dan piring kosong di meja
Tak ada gita di gereja
Ataupun rekan-rekan kecil di kiri kanan

Aku rindu menemuiMu dan menemuimu
Aku rindu minggu yang tak bersendu
Membuat minggu tak begitu biru
Tak begitu sayu

Tuesday, September 15, 2015

Latihan Berpisah

Hanya bagaimana cara kita berpisah
Alasan apa yang melatarinya
Seberapa sering kita mengalaminya
Dengan siapa kita berpisah
Sementara atau selamanya

Dari pertemanan, pernikahan, bahkan permusuhan
Dunia ini wahana perpisahan
Dengan pelukan, linangan air mata,
bahkan cacian
Berpisah atau terpisah, sama saja perpisahan

Hidup adalah seruntutan latihan berpisah
Karena pada akhirnya semua terpisah

Wednesday, August 26, 2015

Mabuk Asmara

Mungkin saya ngelindur
berucap kata jadi ngelantur
berpikir liar tak diatur
tak seperti bidak catur

Hari itu rekan-rekan sedang mabuk
minum-minum tengguk demi tengguk

Sejadi-jadinya ia punya muka-muka
tampaklah ia punya lobang lara duka

Tergelepak ia punya topeng 'tegar'
Terpampang ia punya hati 'ambyar'

Sejatinya selama hidup ia marah
Genggam jarinya dialir amarah
Namun dunia menuntutnya ramah

Selalu ada alasan untuk bermalas
Dan mencari sebab untuk tidur pulas

Namun katanya,
Ia tidak punya alasan untuk mencinta
ataupun sekali saja berpikir dusta
jika ia telah mencinta
yang konon tak diridhoiNya

Roman

Dalam roman disuguhkan antagonis dan protagonis
Keduanya saling terhubung dan membangun gundukan masalah
Meskipun berlawanan, namun itulah seni kehidupan

Sekarang bagaimana dengan kenyataan
Macam tokoh ini selalu samar
Siapa protagonis siapa antagonis

Bagaimana jika diam-diam aku antagonis
Mengganggu langkah-langkah orang
Parasit hidup si protagonis
Keberadaanku mengeringkan tulang

Seseorang akan menganggap dirinya pejuang
Pejuang akan suatu tujuan
Namun tak sadar juga menjadi penghalang
Penghalang orang yang juga berimpian

Thursday, July 9, 2015

Kupu-Kupu

Selama ulat, di pohon yang satu
selera makanmu sama denganku

Lahap demi lahap
Tahap demi tahap

Makan apapun dimana kita hinggap
Merindukan kepompong kita
Hari kita seolah saling balap
Lalu kesenangan-kesenangan itu tercipta

Tau, namun memilih tinggal dalam kebodohan sampai akhir
Menganggap 'tau' adalah mula kesedihan dan khawatir
Ketidaktahuan memanipulasi waktu bahagia seolah tiada akhir

Pada kupu-kupumu, kebaruanmu itu
Engkau siap tinggal landas
Dunia baru, pijakan baru
Kelak mampirlah pada bunga-bunga pohonku

Antonim

Bulu matanya lentik
Geguyonannya asik
Dia santun tak mengusik
Itulah mengapa dia cantik

Tapi kekasihnya sangar
Bahunya kekar plus kasar
Suaranya gagah menggelegar
Sekali hantam kita tepar

Ini seperti antonim
Berlawanan tapi guna melengkapi
Ini seperti siang malam
Berkebalikan tapi musti beriringan

Hidup ini disesaki antonim
Tetaplah begitu,
dan terus begitu

Friday, June 19, 2015

Perempuanku


Untukmu yang kelak di rangkulan lengan baru
Untukmu yang kelak di bawah keteduhan baru

Engkau akan ada dalam rengkuhannya
Dan di bawah perlindungannya engkau ada

Engkau akan ada di ujung bibirnya
Dan dibisikkan ke mahligaiNya

Di bawah perlindungan laki-lakimu nanti
Engkau seperti garis tangannya sendiri
Engkau, ia begitu mengenali
Ketentraman baru segera kau alami

Saatnya engkau terjaga
Karena engkau akan dijaga
Berjalanlah mengarah ke kebaharuan
Tinggallah yang lalu, untuk masa depan

Monday, June 8, 2015

Pemalas

Biarkan waktu yang membiasakan diri
biarkan saja ia yang memahami
biarkan waktu yang memaklumi
mungkin kita sudah letih juangkan hari

Televisiku tak mempertontonkan apa itu baik buruk
Radioku pun tak memperdengarkan
Buku-buku itu tak mengajarkan mana itu baik buruk
Baik buruk, biarkan itu untuk aku yang memutuskan

Detik-detik kita itu para begundal
Televisi semakin meraja binal
Dan meramu kita jadi sundal
Pokoknya, biarkan waktu yang mengawali jengkal!