Kukira kau dan aku adalah senja
Yang indah meranum merah
Berniscaya kita berakhir menjadi senja
Yang mana orang selalu damba dan
mengabadikannya
Sampai-sampai dilukiskan dan dilagukan
bersama secangkir kopi
Menyangkakan kaulah matahariku,
aku langitmu, yaitu tempatmu bersinar
ataupun sebaliknya
Lalu bertemu satu dalam tetapan takdir,
senja.
Tetapi apa,
ternyata akulah orang yang damba itu
melagukan senjamu bersama kopi
Dan bukanlah senja