Tuesday, January 6, 2015

Pensil Warna


Dia hadir dengan membawa pensil-pensil warna kusamnya
Setengah panjangnya, tumpul ujungnya
Kehadapanmu, yang juga empunya pensil warnamu sendiri

Gembira hatinya, dia tawarkan diri
untuk menggabungkan pensilnya dengan kepunyaanmu
maksudnya begitu anggun
Agar kalian berdua menyatu, dan menjadi penuh warna

Baur-baur warna kalian ciptakan dengan indahnya
Tiada lagi warnamu maupun warnanya
Kini warna-warna itu milik kalian,
luar biasa mengimingkan mata

Namun, wewarnaan itu tidak pada tempatnya
Kalian berdua sama baik, masing punya warnanya

Sadarkah kau sekedar punya kesamaan,
memiliki pensil warna,
bukan kertas, ataupun kanvas.

Sadarkah dia hanya perlu kau,
sebagai pengaya warnanya,
kau bukanlah tempat,
tempat akhir dia meletakkan seluruh warna kehidupannya...

Thursday, January 1, 2015

Terompet Harapan, katanya…


Bukankah komat-kamit bibirmu itu
selalu menyeruakkan harapan dan asa baru
yang mana itu tampak dini dan baharu di setiap ujung waktu begini

Gencar-gencar hati menyemangati diri
Buku harianmu kini bertahun baru
Yah, sebatas itu

Bisa kau dengar,
sebagian asa-asa itu bagai terompet dan kembang api
Parau dan bising, setelahnya enyah
Iya, setidaknya kau sempat menerompetkan harapan baru
dan mensuarkan pada jagad, bahwa harapan masih ada