Februari ini menjadi bulan di 2014 yang mewakili
terbangunnya kesan manis, bagiku dengan sahabat terkasihku, atau entah apa pun
sebutan untuknya, dialah yang spesial di sini. Dia memiliki satu ide menarik,
yaitu membuat satu persaingan untuk menciptakan beberapa karya yang harus
dimuat di blog kami masing-masing, atau yang kami sebut “Februari Produktif”,
entah itu cerpen, artikel, argumentasi, kritik sosial, puisi, eksposisi dsb.
Dalam hal ini yang paling banyak karyanya yang dimuat di blog sampai Februari
berakhir dialah pemenang, dan pemenang boleh meminta apa saja kepada si kalah,
hmm… Meskipun ini kompetisi, justru di sini terbangun semangat untuk saling
berjuang bersama-sama.
Pelajaran apa yang bisa kuunduh dari sini? Salah
satunya persaingan sehat. Seperti yang sudah dipaparkan di alinea sebelumnya,
justru kami tidak saling menjegal langkah satu sama lain, yah sesekali di dalam
gurauan kami menyampaikan ketidakrelaan kami untuk menjadi yang kalah.
Di sisi lain Februari adalah bulan liburan kami,
sehingga inilah jalan lain untuk membuat rumah kami menjadi tidak hanya diam
dan membosankan, tetapi menjadi saksi dari terciptanya karya kami. Tidak terasa
aku membuat puisi-puisiku lebih sering dibanding bulan-bulan sebelumnya, dan
blogku lebih ramai di bulan Februari, hehe… Dari mana pun inspirasi kami untuk
membuat suatu tulisan, itu menjadi bumbu yang pasti akan membuat kompetisi ini
lebih produktif dan menyenangkan.
Sangat sederhana sebenarnya apa yang kami lakukan,
kami hanya melakukannya dengan senang hati, iya, aku ‘senang’ kepadanya, dia
‘senang’ kepadaku, hahaha… Dan sesungguhnya bukan permasalahan siapa yang
kalah, siapa yang menang. Ini tentang cinta, kesenangan yang tulus yang timbul
dari dalam hati. Jadi jika kami berdua merasakan itu dalam diri kami
masing-masing, kami berdualah yang menjadi pemenangnya. Bagaimana bisa begitu?
Aku pikir permainan ini juga di dasarkan atas dasar cinta dan rasa senang atau
suka, maka apabila kami sudah mendapatkan dan merasakan rasa cinta dan senang
itu di dalam hati dari permainan ini, kami telah menang, dan aku rasa kami
senang, we felt it! Hukuman bagi yang
kalah hanyalah bumbu persaingan untuk menggiatkan diri supaya terus menulis
karya sebanyak-banyaknya, bukan begitu? Hahaha…
Lalu mengapa aku menyebut di dalam judul “Kompetisi
Berpeluh Kasih”? Pengertian kasih bagiku seperti seorang janda miskin yang
memberikan makanannya kepada pengemis, padahal ia sendiri kelaparan. Keadaan
kita tidak lebih baik dari orang lain, akan tetapi kita mau memberi apa yang
bisa kita beri. Begitulah kasih, memberi dari kekurangan. Kami memberi dukungan
satu sama lain, meskipun posisinya tertinggal dariku(dalam hal jumlah tulisan
yang telah dibuat), namun ia memberikan dukungannya untukku, begitu juga
sebaliknya. Maka dari sini kami belajar mengasihi, bukan sekedar memberi.
Ibarat menanam benih pohon apel, jika terus dirawat,
maka ia akan menghasilkan buahnya, yaitu apel, dalam bentuk berbeda dari
sebelumnya(benih) bahkan bisa dinikmati orang lain juga. Sama halnya dengan melakukan
segala sesuatu yang didasarkan cinta, jika terus dijaga maka akan berbuah
cinta, dalam bentuk yang berbeda dan orang lain bisa merasakan dampaknya,
sejajar dengan itu, melakukan segala sesuatu yang didasarkan kebencian, makan
berbuah benci, dalam bentuk yang berbeda, dan akan berdampak bagi orang lain.
Demikian hikmah yang aku dapat bagikan kepada pembaca,
kami melakukan apa yang kami senangi, dan berbuah kesenangan yang lebih
kompleks, karna kami mendapat beberapa pelajaran baik yang berbeda-beda.
Sedikit dan banyaknya hanyalah soal kuantitas, tetapi yang jelas kami
mendapatkan ‘hikmah’-nya dari itu semua, dan itulah yang kusebut berkualitas.
Thank you so much! ^^








