Friday, February 28, 2014

Februari dan Kompetisi Berpeluh Kasih

Februari ini menjadi bulan di 2014 yang mewakili terbangunnya kesan manis, bagiku dengan sahabat terkasihku, atau entah apa pun sebutan untuknya, dialah yang spesial di sini. Dia memiliki satu ide menarik, yaitu membuat satu persaingan untuk menciptakan beberapa karya yang harus dimuat di blog kami masing-masing, atau yang kami sebut “Februari Produktif”, entah itu cerpen, artikel, argumentasi, kritik sosial, puisi, eksposisi dsb. Dalam hal ini yang paling banyak karyanya yang dimuat di blog sampai Februari berakhir dialah pemenang, dan pemenang boleh meminta apa saja kepada si kalah, hmm… Meskipun ini kompetisi, justru di sini terbangun semangat untuk saling berjuang bersama-sama.
Pelajaran apa yang bisa kuunduh dari sini? Salah satunya persaingan sehat. Seperti yang sudah dipaparkan di alinea sebelumnya, justru kami tidak saling menjegal langkah satu sama lain, yah sesekali di dalam gurauan kami menyampaikan ketidakrelaan kami untuk menjadi yang kalah.
Di sisi lain Februari adalah bulan liburan kami, sehingga inilah jalan lain untuk membuat rumah kami menjadi tidak hanya diam dan membosankan, tetapi menjadi saksi dari terciptanya karya kami. Tidak terasa aku membuat puisi-puisiku lebih sering dibanding bulan-bulan sebelumnya, dan blogku lebih ramai di bulan Februari, hehe… Dari mana pun inspirasi kami untuk membuat suatu tulisan, itu menjadi bumbu yang pasti akan membuat kompetisi ini lebih produktif dan menyenangkan.
Sangat sederhana sebenarnya apa yang kami lakukan, kami hanya melakukannya dengan senang hati, iya, aku ‘senang’ kepadanya, dia ‘senang’ kepadaku, hahaha… Dan sesungguhnya bukan permasalahan siapa yang kalah, siapa yang menang. Ini tentang cinta, kesenangan yang tulus yang timbul dari dalam hati. Jadi jika kami berdua merasakan itu dalam diri kami masing-masing, kami berdualah yang menjadi pemenangnya. Bagaimana bisa begitu? Aku pikir permainan ini juga di dasarkan atas dasar cinta dan rasa senang atau suka, maka apabila kami sudah mendapatkan dan merasakan rasa cinta dan senang itu di dalam hati dari permainan ini, kami telah menang, dan aku rasa kami senang, we felt it! Hukuman bagi yang kalah hanyalah bumbu persaingan untuk menggiatkan diri supaya terus menulis karya sebanyak-banyaknya, bukan begitu? Hahaha…
Lalu mengapa aku menyebut di dalam judul “Kompetisi Berpeluh Kasih”? Pengertian kasih bagiku seperti seorang janda miskin yang memberikan makanannya kepada pengemis, padahal ia sendiri kelaparan. Keadaan kita tidak lebih baik dari orang lain, akan tetapi kita mau memberi apa yang bisa kita beri. Begitulah kasih, memberi dari kekurangan. Kami memberi dukungan satu sama lain, meskipun posisinya tertinggal dariku(dalam hal jumlah tulisan yang telah dibuat), namun ia memberikan dukungannya untukku, begitu juga sebaliknya. Maka dari sini kami belajar mengasihi, bukan sekedar memberi.
Ibarat menanam benih pohon apel, jika terus dirawat, maka ia akan menghasilkan buahnya, yaitu apel, dalam bentuk berbeda dari sebelumnya(benih) bahkan bisa dinikmati orang lain juga. Sama halnya dengan melakukan segala sesuatu yang didasarkan cinta, jika terus dijaga maka akan berbuah cinta, dalam bentuk yang berbeda dan orang lain bisa merasakan dampaknya, sejajar dengan itu, melakukan segala sesuatu yang didasarkan kebencian, makan berbuah benci, dalam bentuk yang berbeda, dan akan berdampak bagi orang lain.
Demikian hikmah yang aku dapat bagikan kepada pembaca, kami melakukan apa yang kami senangi, dan berbuah kesenangan yang lebih kompleks, karna kami mendapat beberapa pelajaran baik yang berbeda-beda. Sedikit dan banyaknya hanyalah soal kuantitas, tetapi yang jelas kami mendapatkan ‘hikmah’-nya dari itu semua, dan itulah yang kusebut berkualitas. Thank you so much! ^^

Makna Indah Februari Tersimpan Dalam Kedipan Matamu

Mengawali dengan satu langkah gemar
Gemar turun kepada aksara dan ukara
Buah kebahagiaan dijelma menjadi tulisan
Ungkapan terkubur mencuat dan menyentuh helai udara
Menjabat hujan menjabat matahari

Dari akar yang naik kepada apel
Pepohonan memberkatkan musim panennya
Anugerah yang menghinggapi tangan-tangan petaninya
Tangan yang penuh gemar dan pengharapannya

Kita berada dalam kurungan cakrawala yang sama
Tercengkram iklim yang sama
Dilanda badai yang sama
Kau berikan selimutmu
Dan kausilakan dingin menyelimutimu
Lalu terus menyertai setiap kedipanmu

Februari berdiam dalam rumah
Kita menjunjung perhelatan cinta dan jumlah
Di belakang menguntit kenang-kenang indah
Semoga kita bersama di dalam langkah
Semakin kita cerdik menggali hikmah
Membawa tulisan ini menjadi berkah

Mungkin berlebihan bagi mata asing
Bisa saja mata itu adalah sepasang fanatik parsial

Namun aku ingin membawa hikmah itu
Dan menjadi sebuah arti sederhana
Tuk tinggal dalam tiap kedipan matamu
Tersimpan, dan berdiam diri disana

Monday, February 24, 2014

Puisi Cinta

Selalu hangat menyelam di dalamnya
Tak akan berpikir senja akan memisahkan kami
Tak akan mau larut memalamkan kemesraan ini
Larut, larut, terus larut dalam puisi cinta

Sampai waktu yang tak menentu
Dan butir hujan kemana entah dimana
Mataku memekik cengeng dihadapan ombak berderu
Gelegar dari hati mengkarya ramu-ramu warna
Pelukannya menenggelamkanku dalam-dalam

Ini yang dikata cinta berdiam di Februari?
Dan sisa-sisa hujan mendinginkan hawanya
Menunda sedikit kepergian demi kedekatan hangat
Menghangat di dalam genggaman jemari sebelum anjak pada perpisahan

Aku tau rona perpisahan akan lekat di wajahnya
Seiring langkah-langkah kepergian
Lalu sore akan tenggelam bersamanya
Seraya wajah berpaling, memicu jarak yang semakin meleraikan

Kau, puisi cinta
Bahkan kini mengeras, mengukuh bagai tebing karang
Dan aku menyaksikan kakiku menjauh
Kepada pijakan-pijakanku, aku menyimpanmu, lelap bersama kenang-kenang

Thursday, February 20, 2014

Bergelut Lagi Dengan Kuliah

Si muka dua
Si pemutar kalimat
Si juru rayu
Si budak sistem
Si pendamba pengakuan
Sampai Tuan Eksistensi
Akhirnya kujumpai lagi mereka

Oh hari-hari ranumku
Cengkramlah aku sebagaimana hari yang tak terelak
Cumbui aku, di punggungku, di mataku, di hembusan nafasku               
Aku pasrah, waktu telah menggariskannya
Namun ingat, tak sampai nafasku patah

Hai kaum penuntut
Hai kaum terkejar garis kematian
Hai kaum penatua yang melibatkan tangannya dalam kaum muda
Kita merasakan pagi yang sama (lagi)

Ah… kuliah, beserta paket soalnya
Ah… kuliah, lengkap dengan himpunannya
Ah… kuliah, diisyaratkan “perempuan memeluk buku”-nya

*Dara-dara cantik nan licik
*Kucing-kucing rumah nan manja
Begitu senang saat dibelai tangan tuannya
Berhimpun seolah pejuang kemerdekaan
Penggebrak kekunoan (katanya)

Biar munafik lekat padaku
Bolehlah senyum merias mukaku
Oleh sebab hadir-hadir *memuakkan itu
Di sini aku bergelut, bersama paketan perkuliahan
Membaur diantara debu bangku kuliah

Pernah aku disengat kata
Pernah aku dihunus mata
Dikepung cemas, langkah kaki dirantai lemas
Namun ingat, tak sampai nafasku patah…

Tuesday, February 18, 2014

Rel

Kau tau, hidup adalah pilihan.
Kata seorang sahabat, takdir terselip diantara pilihan.
Dimana pilihan selalu memberatkan, karena takdir enggan ber main-main, karena takdir memang kejam.
Satu pilihan yang dipilih menentukan destinasi akhir hidup.
Satu pilihan yang dipilih mengawali liarnya pikiran mengandai-andai.
Satu pilihan yang dipilih, disitulah Tuhan tinggal.

Melaju pesat.
Membelah udara diam.
Membelah kumuh pemukiman, membelah lahan hijau.
Saksi dari keindahan sore, saksi kehidupan di luar takdir, dibatas palang.
Menggaduhi lorong petang.
Kereta api, melejit di atas rel.

Lajunya terpaku lajurnya.
Seperti kaki yang dirantai, tertancap, tercengkram belenggu.
Tiada mampu bersua kemana, tiada izin menoleh ke belakang.

Terus menerus berjalan sampai persinggahan.
Berhenti di jalan tidak akan, apalagi keluar lintasan.
Tak mungkin lari dari medan perang, bahkan kala pungkas tujuan.

Rel, takdir, sudah ada Yang mengatur.
Selalu ada yang tahu menahu kapan harus menikung tajam, kapan harus berpindah haluan.

Tuhan merenda rel-rel manusia.
Maha Bermaksud Baik tak aus sebab usia.
Dan kau tersusun menghadap kepada tujuan mulia.

Monday, February 17, 2014

Mengabu


Tadinya manusia-manusia berdamai dengan hartanya
Tadinya onggokan daging ini diwarna kaya dan miskin
Tadinya atap rumah sahabat baik, menjabat kepala dalam keteduhan

Dunia adalah fana
Sesekali langit menghadirkan halilintarnya
Dua tiga kali bumi meledakkan diri menyingkap menyeruak menjadi duka
Seribu kali hantam-hantam hujan tak memberi erti menyapu tanah kering

Pada waktunya akan indah tuan
Orang bergelimang emas di perut dan kepala tinggallah abu
Orang bermata berlian berliannya tinggallah abu
Orang pemungut benih gandum saudagar kaya pula mengabu
Orang renta nan jauh dari cinta cucunya sama saja hendak tunggu mengabu

Harta tahta wujud kilauan semu abu
Tiada pandang raga, jasad ini hanya abu
Tiada pandang upaya, semua tinggal dilingkup abu
Syukur… akan lebih memaknai hidup sebelum mengabu


Tuesday, February 11, 2014

Perempuan di Balik Riasan “Aku rapopo…”

Pernah dengar kata-kata itu? Atau pernah menemuinya di jejaring sosial Twitter, Facebook, Line, dsb? Setelah saya melakukan penulusuran kecil di internet, kata-kata ini muncul pertama kali dari meme comic indonesia. Sangat menarik sekali dengan disertai gambar-gambar lucu, dan akhirnya booming di dunia maya. Hhe… ini contohnya :



Baiklah, kali ini saya bernafsu sekali mengolak-alik fenomena kata “aku rapopo” ini, dan dalam hal ini saya akan mengusungnya dengan lebih berorientasi kepada kaum perempuan. Oiya, semua yang dikemukakan ini hanyalah argumen saya pribadi, hehe, dan ingat, saya mengutarakan disini tidak semata-mata merepresentasikan bagaimana perempuan itu, ini hanya subyektifitas.
Perempuan memang gender yang kuat, dalam arti kuat memendam rasa, kuat menyimpan segudang rahasia, kuat merias rupa penampilan sedemikian cantik supaya tak terlihat bagaimana keadaan aslinya, hehe. Laki-laki biasanya hanya tau wujud luarnya saja, bahwa si perempuan ini sedang baik-baik saja.
Kaitannya dengan judul? Nah, itu salah satu riasan mereka(perempuan), supaya tetap terlihat fine, seolah tidak terjadi apapun pada diri mereka.  Namun yang sering menjadi perhatian saya, seketika saya menemui kata-kata semacam itu yang dipakai oleh perempuan di media sosial, justru itu semakin menunjukkan bahwa mereka sedang dalam keadaan tidak baik, entah jasmani atau rohani. Kadang mereka juga mengutip berbagai statement kata-kata bijak tentang wanita yang menyatakan bahwa wanita itu kuat, ia tetap tersenyum sekalipun ia terluka, contoh :
kalimat-kalimat semacam itu sepertinya semakin populer dan terus menjadi kutipan musiman bagi para perempuan-perempuan ini (ingat lagi, tidak semua perempuan seperti ini). Bahkan mulai berkembang dengan disertai gambar-gambar lucu, dengan tulisan serupa.
Dari seringnya kaum perempuan terutama yang masih dalam masa penjajakan mengambil tulisan-tulisan seperti itu, kemudian diekspos ke media sosial, kutipan-kutipan yang sarat makna mendalam itu seakan menjadi tak menemui esensi tiap butir kata-katanya. Karena itu memang kalimat yang lebih cocok untuk konsumsi pribadi, yaitu untuk menguatkan diri sendiri, memotivasi diri ketika dalam kedukaan atau hal semacamnya. Namun pada realitanya itu dipos atau dipos ulang(repost, share, retweet) dengan dalih supaya semua orang tau, bahwa ia(si perempuan) sedang sedih, galau, gamov(gagal move on). Bagaimana saya bisa menilai demikian? Ini beberapa hasil survey saya di sosmed :

Mereka seakan berusaha menutupi kesedihannya dengan cara seperti itu, namun menurut saya itu bukan tindakan sebagai upaya menutupi suatu bentuk kesedihan tetapi dirasa-rasa itu justru memberikan sinyal-sinyal pada orang lain bahwa ia sedang tidak berkeadaan baik.
Dan akhirnya penghuni media sosial terpanggil untuk menanyakan “kamu kenapa?” dan dijawabnya “aku rapopo… :’)”, lagi “serius?” dijawab “I’m fine seriously :’D”.  Riasan yang cantik, bukan? ^^b hehe…
Semoga menghibur, semoga tidak dijadikan pedoman, boleh diingat tapi jangan disimpan dalam hati J. Maaf bila menyinggung, ini tidak ditujukan pada subyek-subyek tertentu, ini penilaian bersifat universal dan hanyalah opini. Thank you. ^^

Wednesday, February 5, 2014

(Inilah) Peng(aku)an

Seolah-olah waktu menuduhku
Entah apa lakuku
Marah tak enggan menunggu bom waktu

Dalihku ingin diterima bumi
Wujud sumbangsih sebagai pewangi
Inilah aku, terjerat rasa cekam tak diakui

Luka-luka dilepas masa
Untuk aku yang ada, di kala mata dicelik
Kekuranganku harus kusakukan dalam
Melawan diri demi sebuah penerimaan
Aku tak menjadi seorang yang asing
Namun aku cukup dilanda lara olehnya
Akuilah aku ada, maka inilah aku

Monday, February 3, 2014

Kidung Di Atas Ranjang

Kini waktuku untuk berbaring 
Timangan ranjang juga bantal, 
selalu mereka yang ada

Temanku ada jauh terkabur oleh jarak
Ia wanitaku ibarat kidung yang sakral,
teguh, guratan arti di dalamnya
Adalah api penyulutku, 
bisa hangat bahkan membakar kerongkongan

Langit dan laut tempat berbagi sepi 
Tatap menatap, tetap meratap
Birunya menyampaikan "Hari ini elok ya..." kepada jagad 
Kepada yang sepi, tanpa kidung pemberi arti

Selalu ada timangan ranjang dan bantal 
Menggigil harap-harap ada hangat
Mari tidur, sampingmu diisi olehku...

Benalu

Inginmu kau bahasakan dengan murung
Kau berkata melalui diam
Menampar muka dengan pernyataan pahit

Kau pernah amarah,
Kehendakmu akan mendesakku menjadi kehendakku
Teriakan-teriakan pagiku mustahil membangunkanmu

Kau pernah amarah,
Menghujami dada ini dirasa penuh sesak
Meluapkan tanganku ‘tuk menggenggam pedang
Seolah balik ingin menghunusmu !

Api ingin menguapkan air
Air ingin memadamkan api
Kita saling memusuhi dan mengatasi

Bagiku kau benalu
Bagimu aku figuran lalu
Tiada peredaan tak kenal waktu
Kuharap semua ini segera mengabu

Teriakan Pagi

Tuhan mengenal baik anak-anakNya
Guratan di telapak tangan Ia paham artinya
Ia subuhkan malam, Ia berikan pagi
Kelahiran mentari sarapan indah langkahan kaki

Kala itu, pagiku cemar
Mendung merambah pagi
Tak segan. itu mengusiknya
Semuanya remang, semuanya jemu, dirundung murka
Kenyataan tak melulu memerdekakan hati
Terbit matahari tak harus berarti cerah

Lagi-lagi Tuhan, Ia memang serba tau
Bahkan dari kaum-kaum menganggap Ia sok tau
Dianggap tua dan tau
Tuhan tiada bertindak
Kaum-kaum mengaum!

Bagi seorang sulung, berontak itu sikap kesulungan
Bagi si bungsu, rengek itu tanda kasihan
Bagi yang nomor dua, mereka adalah beban!
Bangsat!

Tuhan di sini adalah ibu
Tuhan di sini merawat dari kecil
Penuh kasih dan adil
Maha Mencambuk, Maha Membelai
Tuhan Maha Ada, di pagiku.

Bon Dodo

Terjaga ku dari kantuk
Demi selangkah demi langkah kaki
Pijakan-pijakan kecil terus terlalui
Dan kini membelakangiku

Sekarang engkau yang gemar
Menyulut rona di mukamu dan berdiam di kepalaku
Candaanmu yang bercabang-cabang
Adalah akar kuat mencengkram pikirku tuk jadi candu

Kita terkurung malam
Dan doa berserakan di pejam mata
Kuimani aminmu, kau aminkan imanku.




Bingkai Khatulistiwa

Jelas terdengar juga terlihat
Suara merdu rerimbunan pohon
rumah-rumah pribumi

Jelas terdengar juga terlihat
Celoteh anak kecil di bawah bingkai khatulistiwa
Yang dengan kumandang maghrib di akhiri

Jelas terdengar juga terlihat
Deruan ombak di bawah cantiknya purnama
Nelayan lengkap bahu kuat menggali lautan

Jelas terdengar juga terlihat
Orasi sosok gagah kemeja berdasi
Diakhiri bingkisan putih dengan rupiah sebagai bebannya

Terlukis jelas rekaman negeriku
di dalam bingkaian khatulistiwa

Keber(agama)n

Terbit dari ufuk timur yang sama
Siang terkelupas senja di barat yang sama
Mataharimu dengan milikku sama

Dirimu hanya tumpukan daging bernyawa sobat
Penuh lubang rawan dosa, sama denganku
Kita tak hanya doa untuk kiamat
Hey, Tuhan minta jangan angkuh

Aku berdiri tak mengharapkan sama
Sujud, lipat tangan, dongak leher, ratapan doa
Baiklah bertujuan mulia
Membangun, diakarkan dalam
Kita semua ranting di pokok pohon yang benar

Sayang, kita membangun asa dalam keberagaman
Kita memiliki bahan baku yang tak sama
Aku pernah hujan, dibawa dari gemuruh
Kau tanah penerima dengan gerus-gerus hujan
Hingga kita meresap, menumbuhkan benih
Berbunga-bunga, merekah-rekah

Berbuah-buah, baiklah semua ini berkah
Sebab kita memeluk agama dalam keberagaman

Bentang Budaya

Khatulistiwa, menimang lembut negeriku
Memanjakan tunas-tunas pohon singkong

Melahirkan keindahan karsa
Cipta keindahan
Persembahan akal manusia

Dedaunan riang menyambutnya
budaya yang menjadi arti kebesaran bangsa
Menjadi hiasan utama,
 gerbang kemegahan negeri khatulistiwa