Tuesday, February 11, 2014

Perempuan di Balik Riasan “Aku rapopo…”

Pernah dengar kata-kata itu? Atau pernah menemuinya di jejaring sosial Twitter, Facebook, Line, dsb? Setelah saya melakukan penulusuran kecil di internet, kata-kata ini muncul pertama kali dari meme comic indonesia. Sangat menarik sekali dengan disertai gambar-gambar lucu, dan akhirnya booming di dunia maya. Hhe… ini contohnya :



Baiklah, kali ini saya bernafsu sekali mengolak-alik fenomena kata “aku rapopo” ini, dan dalam hal ini saya akan mengusungnya dengan lebih berorientasi kepada kaum perempuan. Oiya, semua yang dikemukakan ini hanyalah argumen saya pribadi, hehe, dan ingat, saya mengutarakan disini tidak semata-mata merepresentasikan bagaimana perempuan itu, ini hanya subyektifitas.
Perempuan memang gender yang kuat, dalam arti kuat memendam rasa, kuat menyimpan segudang rahasia, kuat merias rupa penampilan sedemikian cantik supaya tak terlihat bagaimana keadaan aslinya, hehe. Laki-laki biasanya hanya tau wujud luarnya saja, bahwa si perempuan ini sedang baik-baik saja.
Kaitannya dengan judul? Nah, itu salah satu riasan mereka(perempuan), supaya tetap terlihat fine, seolah tidak terjadi apapun pada diri mereka.  Namun yang sering menjadi perhatian saya, seketika saya menemui kata-kata semacam itu yang dipakai oleh perempuan di media sosial, justru itu semakin menunjukkan bahwa mereka sedang dalam keadaan tidak baik, entah jasmani atau rohani. Kadang mereka juga mengutip berbagai statement kata-kata bijak tentang wanita yang menyatakan bahwa wanita itu kuat, ia tetap tersenyum sekalipun ia terluka, contoh :
kalimat-kalimat semacam itu sepertinya semakin populer dan terus menjadi kutipan musiman bagi para perempuan-perempuan ini (ingat lagi, tidak semua perempuan seperti ini). Bahkan mulai berkembang dengan disertai gambar-gambar lucu, dengan tulisan serupa.
Dari seringnya kaum perempuan terutama yang masih dalam masa penjajakan mengambil tulisan-tulisan seperti itu, kemudian diekspos ke media sosial, kutipan-kutipan yang sarat makna mendalam itu seakan menjadi tak menemui esensi tiap butir kata-katanya. Karena itu memang kalimat yang lebih cocok untuk konsumsi pribadi, yaitu untuk menguatkan diri sendiri, memotivasi diri ketika dalam kedukaan atau hal semacamnya. Namun pada realitanya itu dipos atau dipos ulang(repost, share, retweet) dengan dalih supaya semua orang tau, bahwa ia(si perempuan) sedang sedih, galau, gamov(gagal move on). Bagaimana saya bisa menilai demikian? Ini beberapa hasil survey saya di sosmed :

Mereka seakan berusaha menutupi kesedihannya dengan cara seperti itu, namun menurut saya itu bukan tindakan sebagai upaya menutupi suatu bentuk kesedihan tetapi dirasa-rasa itu justru memberikan sinyal-sinyal pada orang lain bahwa ia sedang tidak berkeadaan baik.
Dan akhirnya penghuni media sosial terpanggil untuk menanyakan “kamu kenapa?” dan dijawabnya “aku rapopo… :’)”, lagi “serius?” dijawab “I’m fine seriously :’D”.  Riasan yang cantik, bukan? ^^b hehe…
Semoga menghibur, semoga tidak dijadikan pedoman, boleh diingat tapi jangan disimpan dalam hati J. Maaf bila menyinggung, ini tidak ditujukan pada subyek-subyek tertentu, ini penilaian bersifat universal dan hanyalah opini. Thank you. ^^

2 comments: