Monday, November 24, 2014

Hujanku tertahan di langit Sabtu

Hari ini aku sungguh bersyukur
Panjatan doa dan laguku terterima di sana
Sebagai wujud bahwa kupercaya doa itu manjur
Aku benamkan kotor pikiran mengelana

Tengadah doa timbulkan harapan baru

Dan hujanlah hadiah perjuangan jiwa yang kering
Dari sulutan api terlampau mengkobari sesampingku
Maafkan ulah tangan dan langkah kakiku

Hujanku tertahan di langit Sabtu
Kini bebaslah ia merinai tanahku

Saturday, November 8, 2014

Kepadanya


Mataku tercelik,
berpaling dari malam kepada pagi
Mataku bersinar,
tatkala pintu tersingkap
dan cahaya fajar riuh berebut masuk

Akankah ini berubah,
ketika aku terbaring
ada seorang yang lain
terlebih dahulu menyapaku
mendahului fajar menyapaku?
Ketika cahaya mentari tak lagi membangunkan?

Aku rindu untuk pergi dari lingkar kebosanan
Dan berpaling kepada jiwa penuh damai

Kepadanya,
yang menilik habis sisi gelapku
dan menutup lubang kosong
diubahnya menjadi bahtera sempurna

Saturday, November 1, 2014

Membenci Tawa


Tak salah jika ada tawa di sela keguyuban
Di antara derap-derap langkah kekawan
Menjadi topeng bahwa kebersamaan ini sungguh termakna

Tak salah bila sejenak rehat menjadi alasan pribadi
Menyiapkan langkah yang lebih kuat esoknya
Lalu menghilang di balik selimutan 'rehat sejenak'

Aku membenci candaan itu
Serta merta tertawa, dibahaknya remeh atas keringat rekannya
Atas dasar kawan rekat atau pora-pora sesaat?

Aku membenci tawa-tawa itu
Bukan tawa penghibur duka, namun pembawa luka
Kelelahan ini tak mampu gapai tujuan
Bagai penghiburan bagi diri, segala beban ditanggalkan

Aku membenci aku
Maha tiada menahu
Pecundang tertutup sipu
Hanya melagu, tak daya bertinju