Tuesday, October 10, 2017

Tua

Memang tidak mungkin,
satu rumah tua mohon kepada manusianya, "aku sudah mulai tua, gantikanlah tiang-tiang rentaku"
Tapi dia berbicara melalui decit pintu yang mulai reot,
debu tembok mengelupas, atau butiran kayu yang dirayapi.

Rumahku tak sadar membicarakan tua-nya dari basah yang menetesi kepalaku dari genting-genting bocor acap kali hujan.
Rumahku tak sengaja menunjukkan tua-nya dari angin yang lolos masuk menyisir kuduk dari jendela usangnya.

...
Ayah ibuku, mungkin saja bisa membicarakan tua-nya. Tapi ternyata mereka seperti rumah.
Mereka tak akan bicara, "kami sudah mulai tua, gantikanlah kewajibanku"

Ibuku tak sadar membicarakan tua-nya dari tiap bangun tidurnya mengaduh sambil memegangi pinggangnya.
Ayahku tak sengaja menunjukkan tua-nya dari paku, palu, dan perkakas yang masih berserakan karna lelah tak keruan lalu tak selesaikan menambal lobang jendela kamar ibuku.

Sebab mereka sebenar-benarnya rumah,
tempat pulang yang tak pernah membicarakan tua-nya,
dan cintanya menerus muda.