Thursday, March 27, 2014

Bambu-bambu berbicara

Harap-harap cemas
Haha...
Bagaimana jika satu lagi kasmaran dinodai jarak? 
Senantiasa dibutuhkan pembiasaan

Bambu-bambu itu selalu berdecit kala angin mengusiknya
Bukti bahwa mereka dekat
Bukti bahwa mereka berbicara satu sama lain
Sekalipun helai-helai daunnya gugur
Namun mereka tak tumbang.
Karena apa? Karena dekat, rekat, saling memperkuat. 

Akan tetapi, 
Benarkah manusia sesederhana bambu dirundung angin? 
Jika jarak adalah angin, mungkin kah ia membuat manusia berdecit dengan cintanya? 
Iya, sebagai bukti mereka berdua masih eksis dalam peluh berkasih-kasihan.
Decit sebagai bukti mereka dekat, rekat, saling memperkuat ...

Monday, March 17, 2014

Daun Kuning Lalaikan Dahannya

Lalu pergi sebegitu lalai dihembus angin
Lalu membumi dan akrab dengannya
Daun kuning yang terbang-terbang lalai dahannya

Menempati tempat baru lalu membaur
Berdiam dan perlahan mengurai
Memfungsikan diri kemudian lenyap

Tak akan selalu kita berpijak di pijakan yang sama
Satu satu umur kita langkahi
Menampakkan keriput yang perlahan tergariskan

Baiklah seorang yang berbudi akan ditanggalkan
Dari tempat semula dan diganti seorang yang lain
Mengusung berjuta ingatan dan pula ditanggalkan

Baiklah seorang yang berbudi akan enyah
Membawa fungsi baru bagi tempat barunya
Menyerahkan angin menghembuskan kemana
Lantas berlaku sebagai berkat yang berdiam tak berkelana

Monday, March 10, 2014

Waktu Singkat Embun Di Atas Bangku Taman

Andai kata satu hari adalah satu masa kehidupan
Embun pagi hanya punya waktu singkat untuk hidup
Tercipta dari pada sang pagi buta
Sebelum hangat cahaya hari menghabisi

Andai kata satu hari adalah satu masa kehidupan
Ia tak mau luput dari masanya dimana ia hinggap di bangku taman
Yaitu ketika pelukan mampu menghangat diantaranya
Yang memberhargakan sebuah masa yang dikenang berdua

Andai kata satu hari adalah satu masa kehidupan
Tak ada yang perlu dilawan
Hanya saja terus tenggelam, terangkat mengawan-awan
Lenyap tak bersatu dan menatap dari jauh melalui hujan

Aku menghilang dari cahayaMu

Benarkah cinta datangnya dari Tuhan?
Hadir dalam hati dan keluar melalui sorot mata dan gerik tubuh?
Membuat bibir dan lidah seakan tak akur untuk berkecap kata?
Apa benar cinta berlaku untuk manusia yang berbeda dunia?

Jika benar cinta begitu…
Apa maksud Tuhan memberi cinta yang pada akhirnya tak bersatu?
Atau bahkan kemudian berlalu begitu saja, hilang dan memberi sakit satu sama lain?

Aku berada dalam tanggungan yang biasa.
Aku mengusung beban yang tak ada hartaku di sana.
Hanya merasa gusar sesuatu hilang di luar sana sesaat aku tak ada untuknya.
Apa maksud Tuhan memberi tanggung jawab, cinta, dan kemudian cemas menyusulnya?

Kemudian mengapa aku berada di sini?
Ketika aku mengenal cinta dan sama sekali aku tak mengenal diriku?
Seolah aku memiliki watak orang lain demi apa yang aku cinta?
Aku hilang yang namanya percaya.
Bahwa diriku berharga, dan lengkap dengan seonggok kebaikan di dalamnya.
Mengapa aku cemas dan tak percaya bahwa aku dikhususkan untuk seseorang yang mendambakanku?
Mengapa aku menjadi orang lain di dalam tanggung jawabku, di dalam aku mencintai?
Tak bisakah jika ini dapat kuolah sebaik mungkin sehingga aku tak berada kecemasan?

Aku berada pada tempat yang harus kusesuaikan impianku.
Jika aku merasa tak cocok di sini, apakah aku perlu beralih ke tempat lain dan menyesuaikan impianku lagi?
Sesungguhnya aku benar-benar tak punya asa kini.
Aku berpikir aku sedang dalam ujung kebahagiaan, dan akan tiba waktunya habis.
Mendekat pada garis akhir, memasuki ruang kehilangan, dan kini hanya cemas yang melanda.

Apa kaitannya semua ini?
Aku dianugrahi cinta, memiliki tanggung jawab, menyesuaikan cita-citaku, hilang kepercayaan, kemudian aku berada dalam kurungan cemas yang kuat.
Apa aku berpikir salah? Apa benar aku terlalu jauh kini dari padaMu Tuhan?

Sunday, March 2, 2014

Berdua Lebih Baik, Beriringan, Dalam Alur Langkah yang Berbeda

Aku mengaku sedih ketika senang kini sedang lekat padaku
Ketika mataku menetap pada pandangan jauh menembus tembok
Jauh menembus hembus-hembus angin dan debu     
Aku mencapai bayangan hitam, begitu muram, begitu kelam, begitu pasti…

Seseorang berdiri, menggenggam teguh satu keteguhan
Seseorang yang melangkah pasti, membelakangi segalanya aku

Aku menaruh sedih pada linangan mata
Berharap tenggelam di dalamnya, hidup bersama gurauan di dalamnya
Sungguh manis hingga akhir pada kerlipan mataku
Aku berada pada lintasan yang berbeda, meski sesekali aku harus menyebrang

Aku bisa tahan semua ini, bila aku kokoh pada telapak kaki
Hanya saja, tak memungkinkan bila kubawa di atas setiap langkah beratku
Tak sanggup membawa semua dalam perjalananku
Baiklah aku memetik ikhlas dari pada yang tlah ia ajarkan
Lalu tulus seperti yang tlah diteladankan di curahan senyumnya

Kemudian tinggallah aku dengannya berjalan seturut alurnya…