Bolehkah
aku singgah ke kediamanmu?
Tanpa
sedikit pun buah tangan di genggamanku?
Justru
kubawakan pena rusak yang direkati harapanku untuk kau perbaiki.
Aku
kosong tanpa ini.
Aku
tak berkarya.
Aku
tak menatap keindahan.
Aku
tak berbalut kenyamanan.
Kau,
rangkailah seperti semula pena itu ada.
Bantu
aku. Aku tak tahan lembaranku kosong, kering tak tergoreskan indah.
Aku
tlah memulai (...) dengan amat buruk.
Ingin
kutemui keindahanku yang pergi di akhir cerita.
No comments:
Post a Comment