Siapa
yang tak mengetahui lolipop? Permen dengan tampilan sederhana yang lucu dengan stik/tangkai
untuk pegangannya, sungguh menggiurkan mata dan lidah untuk mencicipnya.
Bagaimanapun itu, kebanyakan anak-anak pasti suka, orang dewasa saja terkadang
masih hobby ngenyot permen ini.
Kenikmatannya bisa dibayar hanya dengan uang paling tidak Rp1.000,-, bergantung
merek dan variannya. Dan kali ini aku akan sedikit bercerita dan berbagi sudut
pandang kepada teman-teman. Mari…
Suatu
waktu aku membeli lolipop, rasa stroberi! Satu saja, bisa kunikmati beberapa
waktu lamanya. Sambil ngegame di
bawah naungan gazebo, enak saja aku menikmatinya. Sesekali aku mengeluarkannya
dari mulut untuk sejenak istirahat mengulumnya. Tak terasa beberapa waktu
kulewatkan bersama lolipop di mulutku, tak sadar pula butir lolipop itu
mengecil, pertanda akan habis. Yah… mulut ini akan sepi.
Ada
saat-saat dimana aku bisa menikmati setangkai lolipop itu, dari pertama kali
aku dapat memilikinya, kemudian merasakannya dari bulatan besar sampai bulatan
terkecil, sesekali mengeluarkannya dari mulut untuk sejenak melihatnya tinggal
seberapa, masih lama kah aku dapat mengecapnya. Mengecap rasa manisnya,
mengemut dan membiarkan ia habis dengan sendirinya –tidak langsung mengunyahnya–.
Ada rasa tertentu dalam hatiku, kecil dan sepele, kebetulan saja itu berbuah
perenungan bagiku.
Seiring
dengan akan habisnya lolipop ini, sedikit saja aku merasa kehilangan, jika
dirasa-rasa kenikmatan yang menyukakan lidah ini akan pergi. Semakin mengecil
dan semakin mengecil. Beruntung saja aku hanya mengemutnya, tidak langsung
mengunyahnya, sehingga aku berkesan lama tenggelam dalam manisnya lolipopku.
Manisnya
setangkai lolipop ini seperti sebuah kebahagiaan dalam diri kita. Ada waktunya
kita berkenalan dengan sumber kebahagiaan itu, bertemu untuk kali pertama,
bahkan bisa memiliki seutuhnya, lengkap dengan kebahagiaan yang menguntit
bersamanya dan pula hanya kita yang menikmatinya. Kita dapat mengecap
kebahagiaan itu, sesekali jeda dan menatap sang pembawa bahagia itu.
Bicara
soal awal, pasti ada akhir. Ada waktunya untuk mengenal, ada waktunya untuk
mengenang. Kali pertama mendapat suatu kebahagiaan, begitu kerasan dan berharap
itu terus ada memihak kepada kita. Seperti lolipop, pasti akan tiba waktunya ia
habis, sejajar dengan itu, kebahagiaan kita akan sesuatu/seseorang suatu saat
akan habis masanya, dan tibalah pada perpisahan. Perkara kita merasa lama atau
singkat bersama rasa bahagia itu, bergantung cara kita menikmatinya, sikap hati
turut menentukan. Dengan mengemut kah atau mengunyah kah? Merasakannya dengan
lembut sampai waktunya tiba atau mengeksploitasinya sesuai hasrat kedagingan
kita? Sepertinya akan berpengaruh besar kepada durasi kebahagiaan itu.
Baiklah
bibir kita limpah dengan syukur akan segala hal yang ada di depan kita, yang paling
sederhana sekalipun. Dari mula-mula kita memperolehnya, sempat hidup
bersamanya, sampai masa akhir kita merasakannya. Seperti halnya seseorang, ada
masanya untuk memberi atau berbagi kebahagiaan bersama seorang yang lain,
kemudian pergi dengan sendirinya sesuai masanya, pergi bersama manisnya, dan
kesan-kesan yang tertinggal. Satu lolipop juga ada masanya, habis, meninggalkan
sedikit rasa yang tersisa dikecapan lidah. Semoga bahagia selalu ada dalam kita,
seberapa besar itu, entah dari manapun itu. Amin. Thank you!

No comments:
Post a Comment