Thursday, May 15, 2014

Setangkai Lolipop

Siapa yang tak mengetahui lolipop? Permen dengan tampilan sederhana yang lucu dengan stik/tangkai untuk pegangannya, sungguh menggiurkan mata dan lidah untuk mencicipnya. Bagaimanapun itu, kebanyakan anak-anak pasti suka, orang dewasa saja terkadang masih hobby ngenyot permen ini. Kenikmatannya bisa dibayar hanya dengan uang paling tidak Rp1.000,-, bergantung merek dan variannya. Dan kali ini aku akan sedikit bercerita dan berbagi sudut pandang kepada teman-teman. Mari…
Suatu waktu aku membeli lolipop, rasa stroberi! Satu saja, bisa kunikmati beberapa waktu lamanya. Sambil ngegame di bawah naungan gazebo, enak saja aku menikmatinya. Sesekali aku mengeluarkannya dari mulut untuk sejenak istirahat mengulumnya. Tak terasa beberapa waktu kulewatkan bersama lolipop di mulutku, tak sadar pula butir lolipop itu mengecil, pertanda akan habis. Yah… mulut ini akan sepi.
Ada saat-saat dimana aku bisa menikmati setangkai lolipop itu, dari pertama kali aku dapat memilikinya, kemudian merasakannya dari bulatan besar sampai bulatan terkecil, sesekali mengeluarkannya dari mulut untuk sejenak melihatnya tinggal seberapa, masih lama kah aku dapat mengecapnya. Mengecap rasa manisnya, mengemut dan membiarkan ia habis dengan sendirinya –tidak langsung mengunyahnya–. Ada rasa tertentu dalam hatiku, kecil dan sepele, kebetulan saja itu berbuah perenungan bagiku.
Seiring dengan akan habisnya lolipop ini, sedikit saja aku merasa kehilangan, jika dirasa-rasa kenikmatan yang menyukakan lidah ini akan pergi. Semakin mengecil dan semakin mengecil. Beruntung saja aku hanya mengemutnya, tidak langsung mengunyahnya, sehingga aku berkesan lama tenggelam dalam manisnya lolipopku.
Manisnya setangkai lolipop ini seperti sebuah kebahagiaan dalam diri kita. Ada waktunya kita berkenalan dengan sumber kebahagiaan itu, bertemu untuk kali pertama, bahkan bisa memiliki seutuhnya, lengkap dengan kebahagiaan yang menguntit bersamanya dan pula hanya kita yang menikmatinya. Kita dapat mengecap kebahagiaan itu, sesekali jeda dan menatap sang pembawa bahagia itu. 
Bicara soal awal, pasti ada akhir. Ada waktunya untuk mengenal, ada waktunya untuk mengenang. Kali pertama mendapat suatu kebahagiaan, begitu kerasan dan berharap itu terus ada memihak kepada kita. Seperti lolipop, pasti akan tiba waktunya ia habis, sejajar dengan itu, kebahagiaan kita akan sesuatu/seseorang suatu saat akan habis masanya, dan tibalah pada perpisahan. Perkara kita merasa lama atau singkat bersama rasa bahagia itu, bergantung cara kita menikmatinya, sikap hati turut menentukan. Dengan mengemut kah atau mengunyah kah? Merasakannya dengan lembut sampai waktunya tiba atau mengeksploitasinya sesuai hasrat kedagingan kita? Sepertinya akan berpengaruh besar kepada durasi kebahagiaan itu.
Baiklah bibir kita limpah dengan syukur akan segala hal yang ada di depan kita, yang paling sederhana sekalipun. Dari mula-mula kita memperolehnya, sempat hidup bersamanya, sampai masa akhir kita merasakannya. Seperti halnya seseorang, ada masanya untuk memberi atau berbagi kebahagiaan bersama seorang yang lain, kemudian pergi dengan sendirinya sesuai masanya, pergi bersama manisnya, dan kesan-kesan yang tertinggal. Satu lolipop juga ada masanya, habis, meninggalkan sedikit rasa yang tersisa dikecapan lidah. Semoga bahagia selalu ada dalam kita, seberapa besar itu, entah dari manapun itu. Amin. Thank you!

No comments:

Post a Comment