Kala
itu kamu begitu kecil
Tampak terheran-heran dengan semua yang kamu lihat
Bulat matamu belum akrab benar dengan dunia
Tampak terheran-heran dengan semua yang kamu lihat
Bulat matamu belum akrab benar dengan dunia
Kamu
ingin gapai ini, kamu ingin gapai itu
Kamu ingin mencicip segala yang di genggamanmu
Kamu masih berdiri di tumpuan lutut
Kamu ingin mencicip segala yang di genggamanmu
Kamu masih berdiri di tumpuan lutut
Suaraku
menyeruak kala aku tak tahan memendam marah
Marah dari sebegitunya aku menyayangimu
Marah dari sedemikian rupa aku mengasihimu
Marah dari sebegitunya aku menyayangimu
Marah dari sedemikian rupa aku mengasihimu
Mataku
terlampau rabun menyaksikan kokohnya dirimu kini
Telingaku kurang merungu suara paraumu itu
Tanganku terlanjur kasar menyeka keringat perjuanganmu kini
Lututku merapuh sekedar mengenang lagi kamu di pangkuanku
Telingaku kurang merungu suara paraumu itu
Tanganku terlanjur kasar menyeka keringat perjuanganmu kini
Lututku merapuh sekedar mengenang lagi kamu di pangkuanku
Dan
aku yang akan bersiap kehilanganmu, bukan kamu
Sebab tiada lagi aku harus mencapai sesuatu.
Lipat tanganku, permohonanku, tangis doaku,
kumuarakan ke mahligai suci Tuhan
dan mengalirkan harapan terindah untukmu, anakku...
Sebab tiada lagi aku harus mencapai sesuatu.
Lipat tanganku, permohonanku, tangis doaku,
kumuarakan ke mahligai suci Tuhan
dan mengalirkan harapan terindah untukmu, anakku...
No comments:
Post a Comment