Bagaimana Tuhanmu menyayangimu,
gelandangan-gelandangan?
Sedang para hantu berdasi
menajiskanmu sebagai kutu metropolitan.
Di rumah megahmu,
lampu tidur awan mendung
dicahayai hujan asam memasung
Kampret memang itu kutu metropolitan
Kota-kota seraya bertajuk
penampungan
Kasihannya oh gelandangan.
Ditinggikan para jelata sesaat
dalam euphoria
Mengemban hutang kata-kata dan
rupiah
Setelah duduk di ‘kursi’
singgasana lalu amnesia
Dianggap ada padahal pekerjaan
tangannya tak kau temu
Dianggap tiada namun merekalah
tentukan harga panganmu
Simpang siurnya wahai hantu
berdasi
Duh gelandangan, kalau belatung
saja dipelihara Tuhan di nasi sisa para dewan
Lalu bagaimana Tuhanmu
menyayangimu, gelandangan-gelandangan?
No comments:
Post a Comment