Memang
tidak mungkin,
satu
rumah tua mohon kepada manusianya, "aku sudah mulai tua, gantikanlah
tiang-tiang rentaku"
Tapi
dia berbicara melalui decit pintu yang mulai reot,
debu
tembok mengelupas, atau butiran kayu yang dirayapi.
Rumahku
tak sadar membicarakan tua-nya dari basah yang menetesi kepalaku dari
genting-genting bocor acap kali hujan.
Rumahku
tak sengaja menunjukkan tua-nya dari angin yang lolos masuk menyisir kuduk dari
jendela usangnya.
...
Ayah
ibuku, mungkin saja bisa membicarakan tua-nya. Tapi ternyata mereka seperti
rumah.
Mereka
tak akan bicara, "kami sudah mulai tua, gantikanlah kewajibanku"
Ibuku
tak sadar membicarakan tua-nya dari tiap bangun tidurnya mengaduh sambil
memegangi pinggangnya.
Ayahku
tak sengaja menunjukkan tua-nya dari paku, palu, dan perkakas yang masih
berserakan karna lelah tak keruan lalu tak selesaikan menambal lobang jendela
kamar ibuku.
Sebab
mereka sebenar-benarnya rumah,
tempat
pulang yang tak pernah membicarakan tua-nya,
dan
cintanya menerus muda.
No comments:
Post a Comment