Apakah Anda pernah berpikir bahwasannya kata "Bajingan" itu baik?
Bajingan, keparat, bangsat dan semacamnya berada dalam lingkup pandangan yang buruk bagi sebagian besar orang yang mengenal istilah-istilah itu. Eksistensi kata-kata itu seolah hendak dihilangkan dalam suatu situasi formal. Berbagai cara orang hendak memperhalus kata-kata itu supaya tidak tercetus dari mulut, dan bagiku itu memang normal.
Masalah "baik-buruk" -nya suatu istilah kata, setiap individu menilai berbeda. Baik bukan berarti benar, sebaliknya benar belum tentu baik. Ketika tangan kiri dipakai untuk makan, secara umum orang memandangnya hal yang kurang baik, tetapi dalam kondisi tangan kanan yang sedang sakit atau tidak bisa digerakkan, maka makan dengan tangan kiri adalah hal yang benar.
Kembali ke "Bajingan" dan kawan-kawan. Seseorang yang dicap "Bajingan" oleh orang banyak belum tentu ia benar-benar sepengertian dengan definisi "bajingan" itu sendiri. Seperti peribahasa "Jangan menilai buku dari sampulnya".
Aku setuju bila orang yang baik dan memang benar-benar baik saat ini, pasti mengalami proses yang panjang dan berat di masa lalu. Seperti seorang empu, ia menempa pedangnya, ia memukul-mukul besinya, membakarnya, melipatnya berkali-kali demi menciptakan pedang yang berkualitas tinggi. Si pedang tersebut mengalami proses yang menyakitkan tentunya, sekaligus mengalami wujud yang sangat tidak elok, sangat jauh berbeda dengan wujud pedang yang telah jadi. Namun melalui proses itu, jadilah pedang yang indah, tajam dan berkualitas.
Orang yang sukses baik dalam kehidupan fisik maupun rohani pasti juga mengalami penempaan yang berat dan bahkan keadaan yang sangat buruk sekalipun, sebelum ia berhasil dengan kehidupannya saat ini. Mungkin untuk seorang kriminal, ia mengalami pahitnya hidup yang memaksanya berpindah haluan jahat, bahkan membuatnya terkekang oleh dinginnya tembok penjara. Akan tetapi dari situ ia menjadi mengerti menjadi seorang yang sering dipanggil bajingan, bebangsat negara, membuatnya bertolak balik ke arah pembaharuan hidupnya. Ia mengerti apa itu hidup bijak, ia mengerti kebaikan dan kebenaran, bahkan ia mengerti mengapa ia ada di dunia.
Itulah proses, "bajingan" sebagian kecil dari proses, "menjadi kotor" sebagian kecil dari proses. Itu hanya kemasannya, inti dari semua ada didalamnya, maksud yang indah bukan dilihat dari kemasan luar. Kemasan luar hanya mewarnai intinya, begitu pula proses hanya mewarnai hidup yang sukses, hidup yang sungguh hidup.
No comments:
Post a Comment