Dari semula, sepoi angin kota ini menyambut
Dari awan runtut meneduhiku
Dari desir debu menjabat tubuhku
Sejak aku memegang gagang pintu
Sejak sinar pagi berebut merasuki ruang
Sejak nyanyian pepohonan menyapaku
Puisi-puisi yang tak kunjung terhantarkan
Tersambar linglung di lintasan angin
Kecap dan celoteh lidah tidak mewakili
Angan hanya gurauan dimakan angin
Angin yang menjadi batas anganku,
sekarang..
No comments:
Post a Comment