Hingga aku tampung senyummu
dan meluap-luap di atas tangan rindu
meraba sela-sela jariku
dipercikannya kepada bumi
yang haus belaian kasih
Kamu seperti tangisan anak kecil
mengubah dirimu menjadi sosok merona
pergi, menghabisi keresahan hancur
Entah alasan apa
tetesan mendung langit itu
turun bak linangan air mata
menderu-deru gemuruhnya
mendayu-dayu rintikannya
Kembalilah ke atas langkah kakimu
kantung matamu lapar akan cahaya jendela
tubuhmu terhimpit ruang sempit
tanganmu rindu pada pintu usang
menuju bentangan cakrawala
Kemari dan renggut kembali tawa dambaanmu
No comments:
Post a Comment