Wednesday, January 8, 2014

Embun Untuk Bangku Taman

Pagi menjemput malam
Simbol datang cahaya siap menyulam
Kadang mendungmenciptakan kelam
Cinta pagi lalu hanya bergumam

Sinar mentari mengusik langit gelap
Menjadikannya saksi bangku sunyi terlelap
Dan taman gubahan pangkuannya
Kemudian embun riuh menyambut-nyambutnya

"Oh bangku taman, engkau hanya mangu terdiam"
Gerutu embun sebab pagi membangunkannya
"oleh sebab apakah, aku hanya datang menghampiri kala pagi ?
lalu aku lenyap di makan terik harimu,
juga terhapus oleh cinta para penggila nyaman sosokmu"
kemudiania pergi dan berharap hari kembali pagi

Embun untuk bangku taman
Embun hanya karat baginya
Yang tak lain juga temannya

Pagilah masa penuh cinta
Dikala bisa bersapa dengannya
Oh bangku taman, aku hadir untukmu sesekali
sisanya itulah murni kau hidup
kemudian aku menguap dan mengawan-awan di atasmu
hanya menatapmu, dan sesekali kusapamu dalam rintik hujan
sesekali kuteriaki rindu dalam rindang deras hujan”

“sekalipun engkau renta olehku,
aku tiada mampu mengelak darimu
pagi selalu ada, maka aku ada,
bukan hubungan baik karna aku merugikan
hendakkah kau senantiasa menerima
sebagai kawan sapaan untukmu?”
deruan embun untuk bangku taman
sebelum matahari menguapkannya kepada atap bumi

No comments:

Post a Comment