Pagi menjemput malam
Simbol datang cahaya siap menyulam
Kadang mendungmenciptakan kelam
Cinta pagi lalu hanya bergumam
Sinar mentari mengusik langit gelap
Menjadikannya saksi bangku sunyi terlelap
Dan taman gubahan pangkuannya
Kemudian embun riuh menyambut-nyambutnya
"Oh bangku taman, engkau hanya mangu
terdiam"
Gerutu embun sebab pagi membangunkannya
"oleh sebab apakah, aku hanya datang
menghampiri kala pagi ?
lalu aku lenyap di makan terik harimu,
juga terhapus oleh cinta para penggila
nyaman sosokmu"
kemudiania pergi dan berharap hari kembali
pagi
Embun untuk bangku taman
Embun hanya karat baginya
Yang tak lain juga temannya
Pagilah masa penuh cinta
Dikala bisa bersapa dengannya
sisanya itulah murni kau hidup
kemudian aku menguap dan mengawan-awan di
atasmu
hanya menatapmu, dan sesekali kusapamu
dalam rintik hujan
sesekali kuteriaki rindu dalam rindang
deras hujan”
“sekalipun engkau renta olehku,
aku tiada mampu mengelak darimu
pagi selalu ada, maka aku ada,
bukan hubungan baik karna aku merugikan
hendakkah kau senantiasa menerima
sebagai kawan sapaan untukmu?”
deruan embun untuk bangku taman
sebelum matahari menguapkannya kepada atap
bumi
No comments:
Post a Comment