Aku mengaku sedih ketika senang kini
sedang lekat padaku
Ketika mataku menetap pada pandangan
jauh menembus tembok
Jauh
menembus hembus-hembus angin dan debu
Aku mencapai bayangan hitam, begitu
muram, begitu kelam, begitu pasti…
Seseorang berdiri, menggenggam teguh
satu keteguhan
Seseorang yang melangkah pasti,
membelakangi segalanya aku
Aku menaruh sedih pada linangan mata
Berharap tenggelam di dalamnya, hidup
bersama gurauan di dalamnya
Sungguh manis hingga akhir pada kerlipan
mataku
Aku berada pada lintasan yang berbeda,
meski sesekali aku harus menyebrang
Aku bisa tahan semua ini, bila aku kokoh
pada telapak kaki
Hanya saja, tak memungkinkan bila kubawa
di atas setiap langkah beratku
Tak sanggup membawa semua dalam
perjalananku
Baiklah aku memetik ikhlas dari pada
yang tlah ia ajarkan
Lalu tulus seperti yang tlah
diteladankan di curahan senyumnya

No comments:
Post a Comment