Sunday, March 2, 2014

Berdua Lebih Baik, Beriringan, Dalam Alur Langkah yang Berbeda

Aku mengaku sedih ketika senang kini sedang lekat padaku
Ketika mataku menetap pada pandangan jauh menembus tembok
Jauh menembus hembus-hembus angin dan debu     
Aku mencapai bayangan hitam, begitu muram, begitu kelam, begitu pasti…

Seseorang berdiri, menggenggam teguh satu keteguhan
Seseorang yang melangkah pasti, membelakangi segalanya aku

Aku menaruh sedih pada linangan mata
Berharap tenggelam di dalamnya, hidup bersama gurauan di dalamnya
Sungguh manis hingga akhir pada kerlipan mataku
Aku berada pada lintasan yang berbeda, meski sesekali aku harus menyebrang

Aku bisa tahan semua ini, bila aku kokoh pada telapak kaki
Hanya saja, tak memungkinkan bila kubawa di atas setiap langkah beratku
Tak sanggup membawa semua dalam perjalananku
Baiklah aku memetik ikhlas dari pada yang tlah ia ajarkan
Lalu tulus seperti yang tlah diteladankan di curahan senyumnya

Kemudian tinggallah aku dengannya berjalan seturut alurnya…


No comments:

Post a Comment