Benarkah cinta datangnya dari
Tuhan?
Hadir dalam hati dan keluar
melalui sorot mata dan gerik tubuh?
Membuat bibir dan lidah seakan
tak akur untuk berkecap kata?
Apa benar cinta berlaku untuk
manusia yang berbeda dunia?
Jika benar cinta begitu…
Apa maksud Tuhan memberi cinta
yang pada akhirnya tak bersatu?
Atau bahkan kemudian berlalu
begitu saja, hilang dan memberi sakit satu sama lain?
Aku berada dalam tanggungan yang
biasa.
Aku mengusung beban yang tak ada
hartaku di sana.
Hanya merasa gusar sesuatu hilang
di luar sana sesaat aku tak ada untuknya.
Apa maksud Tuhan memberi tanggung
jawab, cinta, dan kemudian cemas menyusulnya?
Kemudian mengapa aku berada di
sini?
Ketika aku mengenal cinta dan
sama sekali aku tak mengenal diriku?
Seolah aku memiliki watak orang
lain demi apa yang aku cinta?
Aku hilang yang namanya percaya.
Bahwa diriku berharga, dan
lengkap dengan seonggok kebaikan di dalamnya.
Mengapa aku cemas dan tak percaya
bahwa aku dikhususkan untuk seseorang yang mendambakanku?
Mengapa aku menjadi orang lain di
dalam tanggung jawabku, di dalam aku mencintai?
Tak bisakah jika ini dapat kuolah
sebaik mungkin sehingga aku tak berada kecemasan?
Aku berada pada tempat yang harus
kusesuaikan impianku.
Jika aku merasa tak cocok di
sini, apakah aku perlu beralih ke tempat lain dan menyesuaikan impianku lagi?
Sesungguhnya aku benar-benar tak
punya asa kini.
Aku berpikir aku sedang dalam
ujung kebahagiaan, dan akan tiba waktunya habis.
Mendekat pada garis akhir,
memasuki ruang kehilangan, dan kini hanya cemas yang melanda.
Apa kaitannya semua ini?
Aku dianugrahi cinta, memiliki
tanggung jawab, menyesuaikan cita-citaku, hilang kepercayaan, kemudian aku
berada dalam kurungan cemas yang kuat.
Apa aku berpikir salah? Apa benar
aku terlalu jauh kini dari padaMu Tuhan?
No comments:
Post a Comment