Saturday, March 12, 2016

Merpati, Lebah, dan Kucing

Jarum-jarum jam bersenja gurau di sekitaran angka empat
aku bersama kopi dan sore yang makin membarat

Seekor merpati berkata padaku
‘sudahlah, inilah kehidupan yang selayak-layaknya
bebaslah, terbanglah tinggi, bangun sarang megah nan aman,
tinggalkan semua yang di bawah sana, tempat kotor dan najis.
Biar sisanya Tuhanku yang atur dan pelihara hidup.’
Ia berkata melalui sayap-sayapnya yang mengepak mengudara di cakrawala

Lalu seekor lebah mengomel padaku
‘ayolah, bagaimana bisa kau cuma duduk di sini?
Hidup ini singkat, bekerjalah dan layani Tuanmu!
Dimana rekan-rekanmu bekerja, sementara kau nikmati kopi?
Sebelum kopimu basi, mungkin kau sudah mati tiada yang mengingat.’
Ia berkata melalui kawanannya yang berbondong bergegas mencari sari bunga

Dan seekor kucing bergumam padaku
‘aduh, repot amat hidupmu?
percaya atau tidak, aku hanya tidur, sesekali merengek minta makan
Tuanku sudah sediakan keperluanku! Kalau Tuanku tidak ada,
akan dan tetap ada tuan-tuan yang lain yang menaruh iba untuk hidupku.’
Ia berkata melalui tidurnya yang lama di atas sofa empuk

Bersama benamnya sore, aku mati di dalam kopi
Berharap bisa mentas darinya dan bergerak ke tepian mimpi

No comments:

Post a Comment