Jarum-jarum jam bersenja gurau
di sekitaran angka empat
aku bersama kopi dan sore yang
makin membarat
Seekor merpati berkata padaku
‘sudahlah, inilah kehidupan
yang selayak-layaknya
bebaslah, terbanglah tinggi, bangun
sarang megah nan aman,
tinggalkan semua yang di bawah
sana, tempat kotor dan najis.
Biar sisanya Tuhanku yang atur
dan pelihara hidup.’
Ia berkata melalui sayap-sayapnya
yang mengepak mengudara di cakrawala
Lalu seekor lebah mengomel
padaku
‘ayolah, bagaimana bisa kau cuma
duduk di sini?
Hidup ini singkat, bekerjalah
dan layani Tuanmu!
Dimana rekan-rekanmu bekerja,
sementara kau nikmati kopi?
Sebelum kopimu basi, mungkin
kau sudah mati tiada yang mengingat.’
Ia berkata melalui kawanannya
yang berbondong bergegas mencari sari bunga
Dan seekor kucing bergumam padaku
‘aduh, repot amat hidupmu?
percaya atau tidak, aku hanya
tidur, sesekali merengek minta makan
Tuanku sudah sediakan
keperluanku! Kalau Tuanku tidak ada,
akan dan tetap ada tuan-tuan
yang lain yang menaruh iba untuk hidupku.’
Ia berkata melalui tidurnya
yang lama di atas sofa empuk
Bersama benamnya sore, aku mati
di dalam kopi
Berharap bisa mentas darinya
dan bergerak ke tepian mimpi
No comments:
Post a Comment