Si muka dua
Si pemutar kalimat
Si juru rayu
Si budak sistem
Si pendamba pengakuan
Sampai Tuan Eksistensi
Akhirnya kujumpai lagi mereka
Oh hari-hari ranumku
Cengkramlah aku sebagaimana hari yang tak
terelak
Cumbui aku, di punggungku,
di mataku, di hembusan nafasku
Aku pasrah, waktu
telah menggariskannya
Namun ingat, tak
sampai nafasku patah
Hai kaum penuntut
Hai kaum terkejar garis kematian
Hai kaum penatua yang melibatkan
tangannya dalam kaum muda
Kita merasakan pagi yang sama
(lagi)
Ah… kuliah, beserta paket soalnya
Ah… kuliah, lengkap dengan
himpunannya
Ah… kuliah, diisyaratkan
“perempuan memeluk buku”-nya
*Dara-dara cantik nan licik
*Kucing-kucing rumah nan manja
Begitu senang saat dibelai tangan tuannya
Berhimpun seolah pejuang kemerdekaan
Penggebrak kekunoan (katanya)
Biar munafik lekat padaku
Bolehlah senyum merias mukaku
Oleh sebab hadir-hadir *memuakkan
itu
Di sini aku bergelut, bersama paketan perkuliahan
Membaur diantara debu bangku
kuliah
Pernah aku disengat kata
Pernah aku dihunus mata
Dikepung cemas, langkah kaki dirantai lemas
Namun ingat, tak sampai nafasku patah…
No comments:
Post a Comment