Thursday, February 20, 2014

Bergelut Lagi Dengan Kuliah

Si muka dua
Si pemutar kalimat
Si juru rayu
Si budak sistem
Si pendamba pengakuan
Sampai Tuan Eksistensi
Akhirnya kujumpai lagi mereka

Oh hari-hari ranumku
Cengkramlah aku sebagaimana hari yang tak terelak
Cumbui aku, di punggungku, di mataku, di hembusan nafasku               
Aku pasrah, waktu telah menggariskannya
Namun ingat, tak sampai nafasku patah

Hai kaum penuntut
Hai kaum terkejar garis kematian
Hai kaum penatua yang melibatkan tangannya dalam kaum muda
Kita merasakan pagi yang sama (lagi)

Ah… kuliah, beserta paket soalnya
Ah… kuliah, lengkap dengan himpunannya
Ah… kuliah, diisyaratkan “perempuan memeluk buku”-nya

*Dara-dara cantik nan licik
*Kucing-kucing rumah nan manja
Begitu senang saat dibelai tangan tuannya
Berhimpun seolah pejuang kemerdekaan
Penggebrak kekunoan (katanya)

Biar munafik lekat padaku
Bolehlah senyum merias mukaku
Oleh sebab hadir-hadir *memuakkan itu
Di sini aku bergelut, bersama paketan perkuliahan
Membaur diantara debu bangku kuliah

Pernah aku disengat kata
Pernah aku dihunus mata
Dikepung cemas, langkah kaki dirantai lemas
Namun ingat, tak sampai nafasku patah…

No comments:

Post a Comment