Selalu
hangat menyelam di dalamnya
Tak
akan berpikir senja akan memisahkan kami
Tak
akan mau larut memalamkan kemesraan ini
Larut,
larut, terus larut dalam puisi cinta
Sampai
waktu yang tak menentu
Dan butir
hujan kemana entah dimana
Mataku
memekik cengeng dihadapan ombak berderu
Gelegar
dari hati mengkarya ramu-ramu warna
Pelukannya
menenggelamkanku dalam-dalam
Ini
yang dikata cinta berdiam di Februari?
Dan
sisa-sisa hujan mendinginkan hawanya
Menunda
sedikit kepergian demi kedekatan hangat
Menghangat
di dalam genggaman jemari sebelum anjak pada perpisahan
Aku
tau rona perpisahan akan lekat di wajahnya
Seiring
langkah-langkah kepergian
Lalu
sore akan tenggelam bersamanya
Seraya
wajah berpaling, memicu jarak yang semakin meleraikan
Kau, puisi
cinta
Bahkan
kini mengeras, mengukuh bagai tebing karang
Dan
aku menyaksikan kakiku menjauh
Kepada
pijakan-pijakanku, aku menyimpanmu, lelap bersama kenang-kenang
No comments:
Post a Comment