Kau tau, hidup adalah pilihan.
Kata seorang sahabat, takdir
terselip diantara pilihan.
Dimana pilihan selalu
memberatkan, karena takdir enggan ber main-main, karena takdir memang kejam.
Satu pilihan yang dipilih
menentukan destinasi akhir hidup.
Satu pilihan yang dipilih
mengawali liarnya pikiran mengandai-andai.
Satu pilihan yang dipilih, disitulah
Tuhan tinggal.
Melaju pesat.
Membelah udara diam.
Membelah kumuh pemukiman,
membelah lahan hijau.
Saksi dari keindahan sore,
saksi kehidupan di luar takdir, dibatas palang.
Menggaduhi lorong petang.
Kereta api, melejit di atas
rel.
Lajunya terpaku lajurnya.
Seperti kaki yang dirantai,
tertancap, tercengkram belenggu.
Tiada mampu bersua kemana,
tiada izin menoleh ke belakang.
Terus menerus berjalan sampai
persinggahan.
Berhenti di jalan tidak akan,
apalagi keluar lintasan.
Tak mungkin lari dari medan
perang, bahkan kala pungkas tujuan.
Rel, takdir, sudah ada Yang
mengatur.
Selalu ada yang tahu menahu
kapan harus menikung tajam, kapan harus berpindah haluan.
Tuhan merenda rel-rel manusia.
Maha Bermaksud Baik tak aus
sebab usia.
Dan kau tersusun menghadap
kepada tujuan mulia.
No comments:
Post a Comment