Tuesday, February 18, 2014

Rel

Kau tau, hidup adalah pilihan.
Kata seorang sahabat, takdir terselip diantara pilihan.
Dimana pilihan selalu memberatkan, karena takdir enggan ber main-main, karena takdir memang kejam.
Satu pilihan yang dipilih menentukan destinasi akhir hidup.
Satu pilihan yang dipilih mengawali liarnya pikiran mengandai-andai.
Satu pilihan yang dipilih, disitulah Tuhan tinggal.

Melaju pesat.
Membelah udara diam.
Membelah kumuh pemukiman, membelah lahan hijau.
Saksi dari keindahan sore, saksi kehidupan di luar takdir, dibatas palang.
Menggaduhi lorong petang.
Kereta api, melejit di atas rel.

Lajunya terpaku lajurnya.
Seperti kaki yang dirantai, tertancap, tercengkram belenggu.
Tiada mampu bersua kemana, tiada izin menoleh ke belakang.

Terus menerus berjalan sampai persinggahan.
Berhenti di jalan tidak akan, apalagi keluar lintasan.
Tak mungkin lari dari medan perang, bahkan kala pungkas tujuan.

Rel, takdir, sudah ada Yang mengatur.
Selalu ada yang tahu menahu kapan harus menikung tajam, kapan harus berpindah haluan.

Tuhan merenda rel-rel manusia.
Maha Bermaksud Baik tak aus sebab usia.
Dan kau tersusun menghadap kepada tujuan mulia.

No comments:

Post a Comment