Pernah dengar
kata-kata itu? Atau pernah menemuinya di jejaring sosial Twitter, Facebook,
Line, dsb? Setelah saya melakukan
penulusuran kecil di internet, kata-kata ini muncul pertama kali dari meme
comic indonesia. Sangat menarik sekali dengan disertai gambar-gambar lucu, dan
akhirnya booming di dunia maya. Hhe… ini contohnya :
Baiklah, kali ini
saya bernafsu sekali mengolak-alik fenomena
kata “aku rapopo” ini, dan dalam hal ini saya akan mengusungnya dengan lebih
berorientasi kepada kaum perempuan. Oiya, semua yang dikemukakan ini hanyalah
argumen saya pribadi, hehe, dan ingat, saya mengutarakan
disini tidak semata-mata merepresentasikan bagaimana perempuan itu, ini hanya
subyektifitas.
Perempuan memang gender yang kuat, dalam arti kuat
memendam rasa, kuat menyimpan segudang rahasia, kuat merias rupa penampilan
sedemikian cantik supaya tak terlihat bagaimana keadaan aslinya, hehe.
Laki-laki biasanya hanya tau wujud luarnya saja, bahwa si perempuan ini sedang
baik-baik saja.
Kaitannya dengan
judul? Nah, itu salah satu riasan mereka(perempuan), supaya tetap terlihat fine, seolah tidak terjadi apapun pada
diri mereka. Namun yang sering menjadi
perhatian saya, seketika saya menemui kata-kata semacam itu yang dipakai oleh
perempuan di media sosial, justru itu semakin menunjukkan bahwa mereka sedang
dalam keadaan tidak baik, entah jasmani atau rohani. Kadang mereka juga
mengutip berbagai statement kata-kata bijak tentang wanita yang
menyatakan bahwa wanita itu kuat, ia tetap tersenyum sekalipun ia terluka, contoh :
kalimat-kalimat semacam itu sepertinya
semakin populer dan terus menjadi kutipan musiman bagi para perempuan-perempuan
ini (ingat lagi, tidak semua perempuan seperti ini). Bahkan mulai berkembang dengan
disertai gambar-gambar lucu,
dengan tulisan serupa.
Dari seringnya kaum
perempuan terutama yang masih dalam masa penjajakan mengambil tulisan-tulisan seperti itu, kemudian
diekspos ke media sosial, kutipan-kutipan yang sarat makna mendalam itu seakan
menjadi tak menemui esensi tiap butir kata-katanya. Karena itu memang kalimat
yang lebih cocok untuk konsumsi pribadi, yaitu untuk menguatkan diri sendiri,
memotivasi diri ketika dalam kedukaan atau hal semacamnya. Namun pada
realitanya itu dipos atau dipos ulang(repost, share, retweet) dengan dalih supaya
semua orang tau, bahwa ia(si perempuan) sedang sedih, galau, gamov(gagal move
on). Bagaimana saya bisa menilai demikian? Ini beberapa hasil survey saya di
sosmed :
Mereka seakan berusaha menutupi
kesedihannya dengan cara seperti itu, namun menurut saya itu bukan tindakan
sebagai upaya menutupi suatu bentuk kesedihan tetapi dirasa-rasa itu justru
memberikan sinyal-sinyal pada orang lain bahwa ia sedang tidak berkeadaan baik.
Dan akhirnya penghuni media
sosial terpanggil untuk menanyakan “kamu kenapa?” dan dijawabnya “aku rapopo…
:’)”, lagi “serius?” dijawab “I’m fine seriously :’D”. Riasan yang cantik, bukan? ^^b hehe…
Semoga
menghibur, semoga tidak dijadikan pedoman, boleh diingat tapi jangan disimpan
dalam hati J. Maaf bila menyinggung, ini tidak ditujukan pada
subyek-subyek tertentu, ini penilaian bersifat universal dan hanyalah opini.
Thank you. ^^






Nice...^^
ReplyDeleteAku ra popo (^_^)b
ReplyDelete